Kamis, 17 Mei 2012

Inilah Pengakuan Korban Kasus Pelecehan Seks Paskibra

Tribunnews.com - Jumat, 1 Oktober 2010 18:27 WIB
Share
Email
Print
  + Text 
Inilah Pengakuan Korban Kasus Pelecehan Seks Paskibra
Tribunnews.com/ Samuel
Anggota Paskibraka DKI Jakarta foto bersama usai dikukuhkan, Minggu (15/8/2010).
Laporan Wartawan Tribunnews.com,Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -
Untuk pertama kalinya korban kekerasan dan pelecehan seksual anggota Paskibra DKI Jakarta tahun 2010 di masa orientasi kepaskibrakaan terbuka kepada media massa. Hal tersebut dilakukan di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Salah satu yang menjadi korban yakni berinisial LSG mengatakan, saat itu dirinya diperintahkan mandi secara bersama-sama teman-temannya sesama pria. Di tempat itulah mereka diminta untuk melakukan push up dingin (push up di kamar mandi tanpa busana sehelai pun).

Tidak hanya itu, kala melakukan push up mereka diminta untuk melakukan secara bertumpuk.

"Alat kelamin menempel ke bokong, saat push up kemudian para senior mengejek kami dan menertawakan kami," ujar LSG saat jumpa pers di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI),Jumat (1/10/2010).

Apa yang diperintahkan para senior tersebut membuat LSG merasa dipermalukan harga dirinya. "Ini sangat tidak mengenakkan perasaan saya," jelasnya.

Hal serupa juga dilontarkan oleh korban lainnya berinisial RF. Ia juga diminta push up dingin secara bertumpukan setelah membilas tubuhnya saat mandi bersama.

"Kami ditumpuk, kepala di atas bahu teman kami yang berada di bawah," jelasnya.

Sementara itu, pelecehan dan kekerasan juga dialami mereka anggota Paskibra berjenis kelamin perempuan. SD, diminta oleh para senior sesaat setelah mandi berbaris di depan kamar dalam keadaan telanjang bulat.

"Kita disuruh buka pakaian, senior bilang harus buka, lalu kita mandi bersama-sama, kalau tidak ada perintah tak boleh lakukan apa-apa, membilas badan harus sama-sama. Ada 15 orang dari kamar mandi baris setelah handuk dikumpulin masuk kamar dan lari baris sesuai ketinggian badan," ujarnya.

Tidak hanya itu, menurut penuturan SD apabila terdapat salah satu anggota terlupa tidak membawa salah satu atributnya seperti ikat pinggang, para senior tersebut memerintahkan untuk mengambilnya dengan cara jalan jongkok.

Bahkan ada pula yang menampar. "Lupa gesper jalan jongkok nggak pakai baju, push up kepel kita jatuh ditampar," ungkapnya.

Kejadian serupa juga dialami oleh I, tamparan tangan juga mendarat di wajahnya saat dirinya melawan perintah para senior. Ironisnya, pihak panitia juga tidak dapat menjelaskan adanya peristiwa tersebut. "Tidak ada penjelasan penamparan tersebut dari panitia," katanya.

Penulis: Willy Widianto  |  Editor: Prawira Maulana
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Share
Email
Print
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan
Tribun, The National News Paper Kompas Gramedia Grup