Bapak Ini Ogah Ikut Program OK Otrip, Ternyata Ini Alasannya
"Enak seperti ini, sehari mendapat berapa, langsung bisa dipakai untuk makan anak-istri," ujar bapak empat anak ini
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, KAMPUNG MELAYU - Jaya, seorang pengemudi angkutan kota (angkot) 06 trayek Gandaria-Kampung Melayu mengaku ogah ikuti program OK Otrip.
Meski penghasilannya merosot tajam akibat ojeg daring, tetapi ia tidak tergiur dengan gaji tetap yang akan diterimanya setiap bulannya.
Baca: Ini Gerai Makanan Yang Bisa Kamu Datangi Saat Lapar di Stasiun
"Enak seperti ini, sehari mendapat berapa, langsung bisa dipakai untuk makan anak-istri," ujar bapak empat anak ini saat ditemui TribunJakarta, Sabtu (3/2/2018).
"Kalau sekarang mau mencari tambahan gampang. Di Pasar Induk biasanya ada pedagang sayuran yang sewa, sedangkan kalau OK Otrip tidak bisa seperti itu," ujarnya.
Dalam sehari, ia mengemudikan angkot sebanyak empat rit. Setelah dikurangi biaya bahan bakar dan konsumsi, dia mampu memperoleh penghasilan bersih sebesar Rp 40-60 ribu.
Baca: Proyek Pipa Gas di Depok Sempat Terbengkalai Lama Karena Pohon Berusia Puluhan Tahun
Ia juga mengeluhkan keharusan peremajaan angkot untuk dapat mengikuti program OK Otrip.
"Kalau mau gabung harus peremajaan mobil dulu, mobil saya sudah tua, tidak boleh ikut OK Otrip," ujar pria berusia 63 tahun tersebut.
Baca: Siswa Penganiaya Guru di Sampang Dikenal Temannya Sebagai Pendekar
Pria tersebut menambahkan perlu dana yang besar untuk membeli angkot baru, sehingga ia ogah ikut program yang telah ditetapkan oleh Gubernur Anies Baswedan tersebut.
Caption Foto : Jaya seorang pengemudi angkot 06 trayek Gandaria-Kamlung Melayu sedang mengemudikan kendaraannya, Sabtu (3/2/2018).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/jaya_20180203_165547.jpg)