Kisah Hari: Jadi Guru, TKI, hingga Penjual Nasi Bebek

Begitulah rutinitas yang dilakukan Hari, satu dari sekian banyak penjual nasi bebek di seantero Ibukota ini.

Kisah Hari: Jadi Guru, TKI, hingga Penjual Nasi Bebek
TribunJakarta.com/ Satrio Trengginas
Hari bersama warung nasi bebeknya di Jalan Raya Lenteng Agung arah Depok, Jakarta Selatan. 

"Awalnya saya kuliah di Universitas Adi Buana Surabaya, sebagai guru. Selepas lulus saya bekerja jadi guru honorer di Sdn 01 di Kabupaten Sumenep, tapi gaji saya sangat kecil disana," kata Hari pada TribunJakarta.com, Senin (12/2/2018).

Karena penghasilan yang terbilang kecil akhirnya ia mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu berangkat ke negeri Jiran Malaysia.

"Karena penghasilan kecil, tahun 2013 akhirnya berenti. Nyusul kedua orang tua saya ke Kuala Lumpur. Orang tua bekerja sebagai Cleaning Service. Di sana saya kerja sebagai pengawas sebuah proyek pembangunan," pungkasnya.

Bekerja bertahun-tahun di Kuala Lumpur membuat ia sempat lupa dengan usianya yang matang untuk menikah. Tapi Ia merasa ragu membangun sebuah keluarga di negeri tetangga.

"Akhirnya, Saya pulang ke Sumenep tahun 2017 untuk mencari pasangan. Setelah menikah, lantas saya nganggur belum ada kerjaan,"terangnya.

Meski sempat cukup lama menganggur, ada secercah harapan untuk kembali bekerja menghidupi keluarga barunya.

Kakak iparnya memiliki usaha warung bebek di Jakarta. Ia beserta istrinya diajak untuk membangun usaha itu bersama-sama.

"Kakak ipar saya punya usaha warung bebek. Akhirnya saya ikut bantu bantu. Kakak saya jual di daerah Tanjung Barat. Saya di Lenteng Agung. Cuma yang disini kurang begitu laku,"tukasnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved