Di Depan Umat Hindu, Anies Baswedan Ceritakan Mengenai Subak Jadi Studi Kasus Saat Kuliah di AS
Ia berharap umat Hindu dan perantau dari Bali yang tinggal di Jakarta dapat menerapkan semangat gotong royong tersebut.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino
TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Subak merupakan suatu sistem pengairan sawah yang dipelopori masyarakat desa-desa di Bali.
Sistem irigasi ini berakar pada pembagian air yang merata kepada seluruh petani.
Baca: Hari Pertama Ganji Genap, Peningkatan Volume Kendaraan Sebelum Pukul 6 Pagi Mencapai 30 Persen
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Subak sempat dijadikan contoh studi kasus tentang pengelolaan lingkungan hidup saat dirinya masih berkuliah di Amerika Serikat.
Hal tersebut ia ceritakan dalam sambutannya saat upacara Melasti di Pura Segara, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (11/3/2018).
"Waktu itu saya bersekolah di Amerika Serikat, kami mendapatkan mata kuliah khusus tentang manajemen pengelolaan untuk lingkungan hidup. Ketika itu dibawakan case study tentang pengelolaan lingkungan. Dan ketika dipresentasikan oleh dosen, dosen ini sangat terkenal salah satu calon penerima penghargaan nobel, yang ditunjukan dan dipresentasikan adalah subak dari Bali," ujar Anies yang disambut riuh tepuk tangan umat Hindu yang merayakan Melasti di sana.
Baca: Ketua MUI Jakarta Barat: Lawan, Kejar, Tangkap dan Adili Penyebar Hoaks
Asas gotong royong yang diterapkan lewat Subak diharapkan Anies dapat ditularkan di Jakarta.
Ia berharap umat Hindu dan perantau dari Bali yang tinggal di Jakarta dapat menerapkan semangat gotong royong tersebut.
"Jauh-jauh di sana, yang ditunjukkan adalah "teknologi" yang digunakan dan dimunculkan dari Bali. Karena itu, bawa, tunjukkan, tularkan, semangat kegotongroyongan, keakraban, saling topang menopang di Jakarta ini," harap Anies.
Subak sendiri diakui menjadi Situs Warisan Dunia oleh Unesco pada tahun 2012.