TribunJakarta/

Fakta-fakta Pernikahan Dua Bocah di Bawah Umur Tertunda, Tapi Gelar Pesta Sebulan Lalu

Pernikahan dini dua bocah berusia 14 tahun di Bantaeng tertunda tapi pesta resepsi mereka sudah sebulan lalu. Ini fakta-faktanya.

Fakta-fakta Pernikahan Dua Bocah di Bawah Umur Tertunda, Tapi Gelar Pesta Sebulan Lalu
Tribun Timur/Edi Hermawan
SY dan FA saat duduk di pelaminan. TRIBUN TIMUR/EDI HERMAWAN 

Diketahui proses pencatatan tidak boleh ditolak lagi setelah keduanya mengantongi dispensasi dari Pengadilan Agama Bantaeng.

Pesta terlanjur digelar

Meski belum resmi menikah, rupanya sejoli ini sudah menggelar resepsi pernikahan.

Resepsi berlangsung pada 1 Maret 2018.

Alasan belum menikah, keduanya pun belum serumah meski resepsi keduanya telah digelar.

"Sudah pesta waktu 1 Maret 2018, tapi karena belum menikah maka kami belum tinggal serumah," tambah FA.

Pernikahan belum digelar saat resepsi lantaran terhadang oleh dispensasi nikah.

Sebab usia FA masih dibawah umur.

Karena itu keduanya mengajukan permohonan pernikahan kepada Pengadilan Agama Bantaeng dan akhirnya dikabulkan.

Alasan menikah

Penghulu Fungsional KUA Kecamatan Bantaeng, Syarif Hidayat, mengaku baru kali pertama memeriksa berkas calon pengantin yang usianya begitu belia.

"Ini pertama kalinya saya dapat ada Catin semuda ini. Usianya kan biasa nanti di atas yang dipersyaratkan, apalagi ini dua-duanya sangat muda," ujar Syarif dalam keterangannya kepada Tribun Timur, Sabtu (14/3/2018).

Dia menyebutkan, karena usianya yang belum memenuhi syarat pihak KUA setempat sempat menolak dengan mengeluarkan blanko N9 (penolakan pencatatan).

Tapi, rupanya usaha sejoli ini tak sampai disitu.

Mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng dan permohonannya dikabulkan.

"Sempat ditolak, karena usia keduanya masih belum cukup. Tapi rupanya mengajukan dispensasi dan disetujui oleh Pengadilan Agama," tambah dia.

Berbekal dispensasi itu, tidak ada lagi alasan KUA untuk menolak permohonan pernikahan sejoli yang tengah dimabuk cinta itu.

Syarif pun menggali informasi dari keduanya atas keinginan kuat membangun bahtera rumah tangga itu, namun tidak terdapat kejanggalan.

Bukan karena dijodohkan ataupun si wanita tengah berbadan dua, tapi memang keinginan kuat keduanya, ditambah sang wanita yang diketahui takut tidur sendiri.

"Dari informasi tantenya. Anak ini takut tidur sendiri, karena ibunya meninggal setahun lalu dan ayahnya yang kerap keluar daerah karena urusan kerjaan," tuturnya.

Padahal wanita ini diketahui masih duduk di kelas 2 SMP, bahkan dikenal berprestasi oleh teman sekelasnya.

Aturan menikah di bawah umur

Pernikahan di bawah umur dinilai mempunyai banyak dampak negatif, mulai dari kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) yang dinilai belum mampu, kurang mampunya ego dari pasangan rentan menimbulkan kekerasan, hingga perceraian dini.

Tak hanya itu, seorang perempuan remaja dinilai belum siap melahirkan dan mengasuh anak.

Akibatnya, sang calon ibu ini tidak mendapat perhatian sesuai kebutuhan. Selain itu, remaja yang menikah dengan orang dewasa juga rentan dieksploitasi.

Menghindari adanya pernikahan dini, pemerintah telah membuat undang-undang agar dapat menekan angka pernikahan dini.

Sesuai UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, syarat-syarat yang wajib dipenuhi calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan adalah menurut Pasal 6 ayat 1 UU Nomor 1 tahun 1974, perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.

Tak hanya itu, Pasal 6 ayat 2 UU Nomor 1 Tahun 1974: untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat ijin kedua orang tua.

Jadi dalam UU, ketika dua mempelai, baik pihak laki-laki maupun perempuan, jika belum berusia 21 tahun, kedua mempelai harus mendapat persetujuan dari orang tua.

Jika tidak, maka pernikahan tersebut tetap dilakukan, pernikahan tersebut telah melanggar hukum.

Salah satu persyaratan dalam kepengurusan pernikahan di bawah umur oleh KUA, pihak calon perempuan harus mengisi formulir N-5 yang berisi surat persetujuan dari orang tua untuk melangsungkan pernikahan.

Tak hanya itu, mempelai juga harus mendapatkan surat izin dari pengadilan Agama untuk melangsungkan pernikahan.

Pernikahan di KUA tidak ada pungutan biaya atau gratis, selama kedua mempelai memiliki surat keterangan tidak mampu dari kelurahan maupun kecamatan.

Untuk pernikahan di luar KUA, calon mempelai harus membayar biaya administrasi sebesar Rp 600 ribu, yang disetor ke kas negara.

Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help