Penyidik Polri Bakal Temui Perwakilan Facebook Indonesia Telusuri 1,1 Juta Akun yang Bocor

Penyidik berencana mengadakan pertemuan dengan perwakilan Facebook di Indonesia guna mendapati keterangan dan konfirmasi.

Penyidik Polri Bakal Temui Perwakilan Facebook Indonesia Telusuri 1,1 Juta Akun yang Bocor
thehill.com
Facebook telah menghapus dua halaman yang terkait dengan supremasi kulit putih Richard Spencer. 

TRIBUNJAKARTA.COM, PALMERAH – Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Irjen Pol M Iqbal mengatakan berawal dari kisruh adanya dugaan kebocoran data pribadi pengguna Facebook di Indonesia, membuat Polri dan Kemenkominfo sepakat untuk bekerja sama.

Menurut Iqbal pihaknya serius menangani masalah ini dengan serius.

Pasalnya, ini bukan kali pertama jejaring sosial asal Amerika Serikat ini menimbulkan kegaduhan.

Sebelumnya, kasus Rohingya di Myanmar yang juga dibenarkan oleh Facebook, Lalu, pertikaian antara umat Muslim dan Hindu di Srilangka menjadi semakin parah dengan adanya pemberitaan melalui Facebook.

Baca: 1.1 Juta Akun Facebook di Indonesia Bocor, Ini Cara Praktis untuk Mengeceknya

"Hingga saat ini penyidik Kepolisian belum mengambil keterangan dari pengguna yang merasa datanya disalahgunakan. Untuk itu, Polri mengimbau kepada masyarakat untuk segera melaporkan ke Dittipidsiber Bareskrim Polri bagi siapapun yang menerima pemberitahuan langsung dari Facebook agar menjelaskan pengalaman pribadinya secara langsung sebagai saksi," kata Iqbal dalam keterangan yang diterima wartawan di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Sedangkan terkait ada atau tidaknya dugaan tindak pidana sangat ditentukan berdasarkan temuan fakta dan bukti yang ada di lapangan.

"Sejauh ini, penyidik berencana mengadakan pertemuan dengan perwakilan Facebook di Indonesia guna mendapati keterangan dan konfirmasi akan isu yang meresahkan masyarakat ini," kata Iqbal.

Baca: Mark Zuckerberg: Kami Tidak Mengizinkan Kelompok-kelompok Kebencian di Facebook

Dirinya menjelaskan sesuai dengan fungsinya sebagai media sosial yang dengan cepat dapat menyebarkan informasi tanpa batasan wilayah dan waktu.

"Polri maupun Kemenkominfo turut mengkhawatirkan jika Facebook dijadikan alat utama demi kepentingan individu untuk melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab. Misalnya, menyebar fitnah, pencemaran nama baik, provokasi, penyebaran hate speech (ujaran kebencian), hoax dan fakenews (berita bohong) yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat," kata Iqbal.

Oleh karena itu, bentuk tindakan yang akan diberikan kepada Facebook masih dipertimbangkan oleh Kemenkominfo selaku regulator.

Sejauh Facebook dapat memenuhi standar yang berlaku sesuai norma, etika dan adat istiadat yang ada di Indonesia maka keberadaannya akan tetap terjamin di Indonesia.

Lebih lanjut Iqbal menambahkan, Polri maupun Kemenkominfo bersama-sama mengajak seluruh masyarakat untuk turut serta menjadi bagian pengawasan dari setiap informasi yang ada di media sosial Facebook.

Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help