Antisipasi Risiko Bencana, BMKG Luncurkan Program MOSAIC

Bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia diantaranya banjir, tanah longsor, gelombang tinggi, kekeringan, hingga kebakaran hutan

Antisipasi Risiko Bencana, BMKG Luncurkan Program MOSAIC
Istimewa
Kepala BMKG Dwikorita saat meluncurkan program Masyarakat Indonesia Sadar Iklim dan Cuaca (MOSAIC), Selasa (17/4/2018). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan bahwa  Indonesia merupakan wilayah dengan 95% bencana dalam kategori bencana hidrometeorologi sehingga menjadikan Indonesia “supermarket bencana” dengan besarnya ancaman bagi masyarakat.

Dengan mendengar secara langsung pengalaman, inspirasi, dan inovasi dari para relawan sebagai upaya penanggulangan bencana, BMKG membuat program Masyarakat Indonesia Sadar Iklim dan Cuaca (MOSAIC). 

Program tersebut dibuat dalam rangka mengurangi resiko bencana dan memberikan pemahaman kepada masayarakat terkait penanggulangan bencana.

Program MOSAIC juga dibuat dengan melihat kondisi Indonesia secara historis merupakan negara yang memiliki potensi bencana hidrometeorologi yang sangat tinggi. 

Bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia diantaranya banjir, tanah longsor, gelombang tinggi, kekeringan, hingga kebakaran hutan mengharuskan masyarakat untuk mengantisipasi munculnya kerugian maupun dampak akibat bencana alam tersebut.

“Indonesia dengan potensi bencana yang tinggi, membuat masyarakat harus sigap terhadap berbagai ancaman dari bencana alam. Dengan melihat berbagai  potensi bencana alam tersebut maka BMKG  membuat program MOSAIC ini untuk membantu masyarakat," ujar Dwikorita saat meluncurkan program MOSAIC di Yogyakarta. Selasa (17/4/2018).

Baca: Komplotan Perampok Bersenpi Dihadiadi Timah Panas, Begini Aksi Mereka

MOSAIC akan diikuti oleh 43 peserta dari beragam kelompok relawan, mahasiswa, pramuka dan tagana di wilayah Provinsi Yogyakarta. Berbagai kelompok ini berkaca dari keterlibatannya dalam pengurangan resiko bencana dari dampak siklon tropis Cempaka 2017 lalu.

“Pengalaman dalam penangggulangan dampak siklon tropis cempaka 2017 lalu, dari berbagai kelompok seperti relawan, mahasiwa, pramuka hingga tagana karena melihat kesigapan dan keterlibatannya untuk mengurangi dampak siklon tropis Cempaka. Sehingga akhirnya program ini akan diikuti oleh 43 peserta dari kelompok-kelompok tersebut,"  papar Dwikorita.

Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih sebagai fokus inisiasi awal  dari program MOSAIC yang dibuat oleh BMKG. Alasan dari dipilihnya Yogya, karena melihat berdasarkan dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2017 kerusakan akibat bencana tercatat mencapai 47.442 rumah rusak, 1.272 fasilitas pendidikan rusak, 3.5 juta jiwa mengungsi, dan 377 jiwa meninggal dunia.

“Yogya dipilih sebagai inisiasi awal dari MOSAIC yang dibuat BMKG, karena melihat dari pengalaman yang ada juga bantuan pemikiran dari relawan mengenai inspirasi dan inovasi untuk menanggulangi bencana yang terjadi di Indonesia, terutama di wilayah Yogja,” ungkap Dwikorita.

Kedepannya program MOSAIC yang diawali di Yogya ini dapat menjadi contoh bagi berbagai wilayah lain di Indonesia dengan tujuan untuk keberlanjutan ambassador kebencanaan hidrometeorologi yang siap, tanggap, dan memahami bagaimana informasi peringatan dini BMKG mengenai bencana. Sehingga nantinya akan semakin memperluas kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana iklim dan cuaca ekstrem di Indonesia.

“Harapan dari program MOSAIC ini, bisa menjadi contoh dan memunculkan ambassador kebencanaan hidrometeorologi lainnya di berbagai wilayah Indonesia. Sehingga nantinya memunculkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana dari cuaca maupun iklim ekstrem di Indonesia," ujarnya.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help