Jaksa: Kasus Pembakaran Maling Ampli Jadi Pelajaran Masyarakat Agar Tak Main Hakim Sendiri

Video pengeroyokan dan pembakaran maling ampli, Muhammad Al Zahra alias Zoya, menjadi perhatian publik dan viral di media sosial.

Jaksa: Kasus Pembakaran Maling Ampli Jadi Pelajaran Masyarakat Agar Tak Main Hakim Sendiri
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Sidang keenam terdakwa kasus pengeroyokan dan pembakaran maling ampli di Pengadilan Negeri Bekasi, Jalan Veteran, Bekasi Selatan, Selasa (17/4/2018). TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Video pengeroyokan dan pembakaran maling ampli, Muhammad Al Zahra alias Zoya, menjadi perhatian publik dan viral di media sosial.

Berbekal video tersebut, penegak hukum menetapkan enam tersangka pengeroyokan yakni Rosadi, Zulkahfi, Najibullah, Aldi, Subur dan Karta.

Keenamnya dituntut jaksa melakukan perbuatan pidana 170 KUHP tentang pengeroyokan hingga mengakibatkan meninggal dunia.

"Tuntutan masing-masing terdakwa beragam, di antaranya Rosadi selama 12 tahun penjara, Najibulah 11 tahun penjara, Zulkahfi 11 tahun, Aldi 11 tahun, Subur 11 tahun, Karta 10 tahun," jelas Muhammad Ibnu Fajar Kasubsi Kejari Cikarang, selasa (17/4/2018).

Ibnu menegaskan kasus Zoya merupakan pelajaran bagi masyarakat bahwa main hakim sendiri merupakan tindak pidana yang serius.

Tuntutan yang diberikan jaksa juga memiliki dasar, terlebih pidana 170 KUHP merupakan kasus kejahatan yang dilakukan secata kolektif.

"Kalau dalam perspektif kami maka pertanggungjawabannya juga kolektif, semua punya mind set yang sama, geram akibat perbuatan Zoya," tegas Ibnu.

Dia berharap tidak ada lagi peristiwa serupa, apalagi sampai harus dibakar,

"Kepada masyarakat jika terjadi tindakan yang misal melanggar hukum harus menyerahkannya kepada penegak hukum, hukum harus dikedepankan sebagai supermasi penyelesaian masalah apapun," jelas dia.

Kasua Zoya juga menurut dia telah banyak menyita perhatian publik, penyelesaian kasus ini akan menjadi tolak ukur dan pembelajaran untuk penegakan hukum dan masyarakat secara luas.

"Kita berharapa nanti Majelis Hakim akan memberikan keputusan yang adil, tidak hanya bagi terdakwa, juga bagi korban, ini adalah pelajaran karena perbuatan main hakim itu melanggar hukum," tandasnya.

Kasus pengeroyokan dan pembakaran Zoya terjadi pada 1 Agustus 2017.

Ketika itu Zoya diduga mengambil amplifier Musala Al-Hidayah di Kampung Cabang Empat, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Warga yang memergoki aksinya lalu mengeroyok Zoya hingga tewas, kemudian ia dibakar di pinggir jalan dan dipertontonkan ratusan pasang mata di lokasi kejadian.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help