Kenapa Kacamata 3-Dimensi Tidak Memakai Lensa Warna Merah dan Biru Lagi? Ini Evolusinya

Kacamata 3-D masuk di Indonesia sekitar tahun 2000-an masih dengan mode lensa merah dan biru.

Kenapa Kacamata 3-Dimensi Tidak Memakai Lensa Warna Merah dan Biru Lagi? Ini Evolusinya
Grafis Tribun Jakarta
Perkembangan Kacamata 3-D 

TRIBUNJAKARTA.COM - Masih ingat dengan kacamata 3-D jaman dulu??

Kacamata 3-D masuk di Indonesia sekitar tahun 2000-an masih dengan mode lensa merah dan biru.

Mengutip informasi sejarah tentang kacamata 3-D dari HowStuffWorks.com, film 3-D pertama, "The Power of Love," diputar di Hotel Duta Los Angeles pada tahun 1922.

Untuk menciptakan efek 3-D, dua film diproyeksikan secara bersamaan sementara penonton menonton melalui stereoscopes, yang tampak sangat mirip dengan Toy View-Master.

Toy-ViewMaster
Toy-ViewMaster ()

Film 3-D tidak berhasil mencapai daya tarik publik sampai tahun 1950-an, kebanyakan dengan genre kultus dan horor.

Ini adalah ketika kacamata kardus putih dengan lensa merah dan biru menjadi modee, nama teknisnya adalah anaglyph.

Meskipun asosiasi universal kacamata anaglyph dengan 3-D, mereka jarang digunakan lagi.

Kacamata anaglyph 3-D tradisional menggunakan satu lensa merah dan satu lensa biru (cyan).

3D Glasses
3D Glasses ()

Banyak kombinasi warna lainnya juga bisa berfungsi, seperti merah dan hijau, tetapi merah dan biru adalah yang paling sering digunakan.

Lensa biru menyaring semua lampu merah, dan lensa merah menyaring semua cahaya biru, sehingga setiap mata melihat gambar yang sedikit berbeda.

Halaman
123
Penulis: Ananda Bayu Sidarta
Editor: Ananda Bayu Sidarta
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help