Penghasilan Diatas atau Dibawah Rp 10 Juta Punya Kendala Bayar DP Kepemilikan Rumah

“Mereka yang memiliki penghasilan bulanan baik di bawah atau di atas Rp10 juta tetap kesulitan membayar DP," katanya.

Penghasilan Diatas atau Dibawah Rp 10 Juta Punya Kendala Bayar DP Kepemilikan Rumah
Tribun Jakarta/Nawir Arsyad Akbar
Ilustrasi. Beberapa rumah di Perumahan Puri Lestari, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/2/2018) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Banyak keluarga di Jakarta dan sekitarnya enggan memiliki sebuah rumah karena tingginya Down Payment (DP) atau uang muka.

Berdasarkan data dari Rumah123, besaran uang muka atau down payment (DP) ternyata masih menjadi momok di semua kelompok penghasilan.

“Mereka yang memiliki penghasilan bulanan baik di bawah atau di atas Rp10 juta tetap kesulitan membayar DP," kata Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung, Kamis (17/5/2018).

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung, Kamis (17/5/2018).
Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung, Kamis (17/5/2018). (istimewa)

Hal ini cenderung terjadi pada masyarakat di golongan penghasilan di bawah Rp10 juta yang rela membayar cicilan dengan bunga lebih tinggi selama proses pengajuannya tidak terlalu sulit.

Berbeda dengan yang berpenghasilan di atas Rp 10 juta.

Golongan berpenghasilan terbilang besar ini cenderung kesulitan membayar DP karena 'terlilit' utang, sebut saja seperti credit card, Kredit Tanpa Agunan (KTA), dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

Menariknya, ada tren definisi investor terkini, yaitu membeli properti untuk kali pertama, milenial sudah menggolongkan dirinya sebagai investor, bukan lagi first home buyer.

“Responden milenial sudah cukup sadar bahwa properti memiliki return yang bagus. Jadi, meski bukan hunian idamannya, saat mampu membeli sebuah properti, maka mereka akan berpikir itu sebagai bentuk investasi,” ujar Untung.

Data menunjukkan bahwa 60,32 persen milenial di rentang usia 22 sampai 28 tahun mencari hunian sebagai bentuk investasinya.

Sementara 39, 68 persen lainnya belum berencana sedikitpun.

Meningkat cukup banyak, setidaknya ada 75 persen milenial di rentang usia 29 sampai 35 yang mulai mencari hunian investasi.

Penulis: Nawir Arsyad Akbar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved