Bumi Manusia Difilmkan, Yuk Kenali Pramoedya Ananta Toer Lebih Dekat di Sini!

Kita bisa mengetahui karya-karya Pram melalui pameran "Namaku Pram: Catatan dan Arsip" di Dia.lo.gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan.

Bumi Manusia Difilmkan, Yuk Kenali Pramoedya Ananta Toer Lebih Dekat di Sini!
Istimewa.
Pramoedya Ananta Toer 
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Erlina Fury Santika
TRIBUNJAKARTA.COM -- Pada konferensi pers di Yogyakarta (24/5/2018), Falcon Pictures resmi mengumumkan akan mengangkat karya sastrawan termahsyur Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Bumi Manusia" ke layar lebar.
Film ini akan disutradai oleh Hanung Bramantyo dan disebelahnya, Salman Aristo, sebagai penulis naskah.
Yang tak kalah mengejutkannya, pemeran utama novel terbitan 1980 ini akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, sosok yang namanya melejit berkat film "Dilan 1990".
Iqbal berperan sebagai Minke, pribumi 'beruntung' yang mengenyam pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS), sekolah pendidikan menengah umum yang hanya bisa diisi oleh kaum Belanda, Eropa, dan elite pribumi.
Dengan latar penjajahan kolonial, pasti begitu sulit untuk Minke bertahan di lingkaran kaum Belanda yang selalu diskriminatif dan menganggap sebelah mata kaum pribumi.
Pramoedya (selanjutnya disebut Pram)  menceritakan secara cerdas bagaimana sosok pribumi 'pembangkang' ini dalam menentukan sikap, melawan kolonialisme lewat tulisan-tulisannya di koran.
Perjalanan hidup Minke membawa ia ke sebuah rumah mewah, semacam perusahaan milik Belanda.
Disanalah ia bertemu dengan dara muda Belanda, anak pemilik perusahaan, Annelies yang digambarkan Pram sebagai sosok yang cantik bak putri khayangan.
Annelies, berdasarkan konferensi pers akan diperankan oleh Mawar Eva De Jongh, aktris Indonesia berdarah Belanda berusia 16 tahun.
Saat Minke terpukau oleh kecantikan Annelies, ia tak sengaja terpukau juga oleh kecerdasan ibu Annelies, Nyai Ontosoroh, seorang gundik (istri kedua) yang ternyata sangat cerdas, pekerja keras, dan pemberani.
Dalam film ini rencananya Nyai Ontosoroh akan diperankan oleh Ine Febriyanti, pemain teater, yang menjelma sebagai 'ibu kandung' bagi Minke.
Karya Pram, terutama di Bumi Manusia ini sangat gamblang, kaya akan imajinasi dan mengandung semangat perlawanan terhadap diskriminasi, ketidakadilan, dan kondisi sosial Indonesia pada masa masa itu.
Tak hanya gerah pada penjajahan Belanda, Pram juga menceritakan pergulatan batin Minke melawan budaya-budaya pribumi yang ia anggap begitu feodal.
Karya ini adalah karya pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis ketika Pram ditahan di Pulau Buru pada zaman Orde Baru.
Pada zaman tersebut sulit sekali mendapatkan bukunya, sehingga orang-orang yang ingin membacanya harus bersembunyi, bahkan tidak boleh dibaca terlalu lama karena jika ketahuan akan diberangus.
Namun kini, karya Pram tersebut sudah bisa dinikmati, bahkan sudah diterjemahkan ke dalam 43 bahasa.
Karya Pram sesungguhnya tak sebatas Bumi Manusia atau Tetralogi Buru saja.
Kini, kita bisa mengetahui karya-karya Pram melalui pameran "Namaku Pram: Catatan dan Arsip" di Dia.lo.gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan.
Dalam pameran ini pengunjung diajak menyelami sosok Pram secara utuh.
Pengunjung akan melihat dinding yang memuat perjalanan hidup Pram.
Tak hanya itu ada juga ruang arsip yang diisi karya-karya Pram yang belum terpublikasikan.
Selain itu ada ruang video yang menampilkan wawancara dengan keluarga Pram dan mereka yang mengenal Pram.
Dinding "Memorabilia" juga meramaikan pameran itu.
Di dinding tersbeut dipenuhi karya seni yang dipersembahkan untuk mengenang Pram.
Bahkan pengunjung dapat melihat replika ruang kerja Pram di pameran tersebut.
Pengunjung juga bisa melihat goresan sketsa asli Pram, yang konon ini merupakan salah satu kegiatan rutin Pram.
Pameran ini semakin menarik dengan adanya Taman Kata-kata.
Taman Kata-kata adalah taman  yang dihiasi kain-kain putih bertuliskan quotes terbaik Pram dari beberapa karyanya, terlihat begitu sederhana namun menawan.
Happy Salma, aktris sekaligus penggagas Titimangsa Foundation, merupakan pihak penyelenggara pameran ini.
Pameran ini ia angkat karena 'nazar' yang ia cetuskan pada saat sukses menjalani pementasan teater "Bunga Penutup Abad", sebuah pementasan yang terinspirasi dari "Bumi Manusia" Pram.
Ia mengaku sangat terinspirasi oleh Pram.
"Semua ceritanya dia itu tentang hidup. Dan hidup itu konfliknya sama tapi kejadiannya beda-besa. Kita bisa nikmati itu dari seseorang yang bisa menuliskannya dengan baik, penuh riset, perasaan, dan dedikasi yang luar biasa," ujar Happy Salma saat diwawancarai oleh LIputan6.com.
Kini, pameran "Namaku Pram: Catatan dan Arsip" masih bisa dibuka hingga 3 Juni 2018.
Pameran ini dibuka untuk umum dan gratis, dengan waktu pameran setiap hari dari pukul 10.00-21.00 WIB selama bulan ramadhan.
 


Penulis: Erlina Fury Santika
Editor: Rr Dewi Kartika H
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help