Alergi Wifi, Gadis Ini Tinggalkan Sang Ibu Selama-lamanya

Bukan tanpa sebab, alergi wifi ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang terbukti merusak kesehatan.

Alergi Wifi, Gadis Ini Tinggalkan Sang Ibu Selama-lamanya
Mirror.co.uk
TRIBUNJAKARTA.COM - Wifi merupakan sebuah koneksi internet yang banyak dicari setiap orang.
Namun siapa sangka, kalau jaringan yang kerap dicarai banyak orang ini menyimpan bahaya.
 
Seorang ibu bahkan harus kehilangan anaknya yang bunuh diri lantaran alergi wifi.

Bukan tanpa sebab, alergi wifi ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang terbukti merusak kesehatan.

Baca: 6 Tahun Menikah dengan Anang Hermansyah, Ashanty Banyak Banget yang Bikin Aku Sakit Hati

Melansir dari Mirror.co.uk, seorang ahli kanker terkemuka melarang jaringan wifi terpasang di sekolah karena khawatir dampak gangguan kesehatan pada murid-murid.
Dr. Anthony Miller, selaku penasehat World Health Organization (WHO) mengungkapkan adanya efek jangka panjang dari paparan gelombang radio tersebut.

Radiasi dari ponsel serta perangkat nirkabel lainnya ternyata dapat terbukti sebabkan DNA menginduksi kanker pada hewan percobaan.

"Tengkorak anak-anak lebih tipis dan menyerap lebih banyak radiasi ini," ungkap Dr. Miller dengan cemas.

Semakin banyak terserap, maka semakin seseorang menderita "sensitivitas elektromagnetik" yang berdampak pada penurunan konsentrasi hingga sakit kepala.

Contoh kasus fatal, seorang anak berusia 15 tahun dilaporkan bunuh diri karena pusing dan bahkan menderita gatal-gatal karena terpapar wifi di sekolahnya.
Tidak sedikit anak-anak yang merasa mual dan sulit konsentrasi sehingga harus dikeluarkan dari ruangan kelas.
Debra, sang ibunda dari anak 15 tahun yang diketahui bernama Jenny tersebut menceritakan bagaimana putrinya mengakhiri hidup.

Baca: 3 Kali Bolak-balik Kediaman, Nia Ramadhani Gali Pria Jerman Penakluk Hati Jessica Iskandar

"Saya percaya dia tidak bisa tahan lagi. Dia mengalami kelelahan luar biasa, sakit kepala dan tekanan telinga. Dia kesulitan berbicara, kulitnya terasa gatal, pusing dan sendinya kaku," ungkap Debra pilu ketika mengenang sang putri tercinta.
Bahkan, Jenny merasa perlu untuk buang air kecil terus-menerus sehingga seringkali meninggalkan kelas. 

Sebelum mengalami alergi wifi ini, Jenny adalah murid yang baik dan sehat.

"Saya memastikan dia mendapat nutrisi yang tepat, pengaruh yang tepat, dan pendidikan yang tepat. Aku tidak tahu kami sudah mengeksposnya pada sesuatu yang sangat berbahaya," ucap Debra.

Jenny mulai mengalami alergi ketika sekolah memasang jaringan wifi di akhir 2012. 

Pada Juni 2015, Debra terkejut mendengar putrinya tidak berangkat ke sekolah.

Perempuan paruh baya itu semakin terkejut melihat sosok Jenny yang tengah berada di samping pohon.

Debra memanggil nama anaknya untuk memastikan apakah Jenny baik-baik saja sembari berjalan mendekat.

Alangkah terkejutnya ketika Debra menyadari sesuatu telah terjadi pada anaknya.

Baca: Rina Nose Mendadak Posting Gambar Hitam Sebanyak 18 Kali, Ada Apa?

"Hanya ketika aku semakin dekat, aku menyadari dia tidak berdiri sama sekali dan ada tali di lehernya," ungkap Debra berlinang air mata.

Sensitivitas terhadap radiasi elektromagnetik memang telah diakui oleh WHO, namun dampaknya masih belum diketahui dan masih sanga sulit untuk didiagnosis.

Para medis tidak menemukan kriteria diagnosis dan tidak ada perawatan yang dapat menyembuhkan. 

Begitu pula dengan efek jangka panjang dari paparan teknologi wifi yang masih belum pasti diketahui bisa terakumulasi bertahun-tahun sebelum dapat didiagnosis.

Sahabat NOVA, sebaiknya seimbangkan aktivitas berinternet dengan kegiatan fisik ya.(*)

Artikel ini telah tayang di Nova dengan Judul : Tragis! Karena Alergi Wifi, Seorang Ibu Harus Kehilangan Anak Gadisnya
 
Editor: Ilusi Insiroh
Sumber: Nova
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help