Ini Alasan Melepas Ikat Pinggang dan Dilarang Bermain Ponsel Saat Pemeriksaan di Bandara

Sudah jadi hal yang lumrah ketika sudah memasuki ruang kabin pesawat, penumpang harus mematikan sinyal yang ada di ponsel.

Ini Alasan Melepas Ikat Pinggang dan Dilarang Bermain Ponsel Saat Pemeriksaan di Bandara
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Manager Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait (kiri) dan Manager Baggage & ULD Service PT. JAS, Neneng Sumiati (kanan) saat dijumpai di Hotel Golden Tulip, Tangerang. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Sebelum memasuki pesawat terbang, para calon penumpang harus diperiksa gespernya dan dilarang mengaktifkan sinyal yang berasal dari ponsel karena dapat mengakibatkan kecelakaan.

Sudah jadi hal yang lumrah ketika sudah memasuki ruang kabin pesawat, penumpang harus mematikan sinyal yang ada di ponsel.

Manager Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait menyatakan, pengoperasiaan ponsel pada saat lepas landas dan mendarat dapat membahayakan dan berakibat fatal.

Puluhan Tukang Foto Tawarkan Hasil Foto ke Tamu HUT Bhayangkara ke-72

"Yang dilarang itu mengaktifkan sinyal dalam kabin pesawat saat terbang bukan bawa handphonenya, karena sinyal dari handphone itu dapat mengganggu navigasi pilot," ujar Yohanes di Hotel Golden Tulip, Tangerang, Rabu (11/7/2018).

Ia menyarakan, penumpang bisa kembali menggunakan ponselnya dengan sinyal saat keadaan pesawat sudah kondusif atau beberapa saat setalah pesawat mendarat.

AirNav sendiri akan mengambil langkah pencegahaan potensi sekecil apa pun itu dalam kegiatan penerbangan di seluruh Indonesia.

Peserta OK OCE Tembus 40 Ribu Peserta, Sandiaga Uno Janji Akan Berangkatkan Umrah

"Seberapa persennya potensi membahayakan penerbangan akan kamu tangani dan buat pencegahan, karena penerbangan ini gak main-main dan sekali terjadi celaka bisa menjadi malapetaka," sambung Yohanes.

Hal senada diungkapkan oleh Manager Baggage & ULD Service PT. JAS, Neneng Sumiati yang menekankan mengenai prosedur pemeriksaan gesper atau ikat pinggang saat melalui body checking.

"Sudah diterapkan disetiap bandar udara, gesper wajib dilepas dan diperiksa karena dari situ juga muncul potensi kecurangan," saut Neneng.

Ia menuturkan, bahwasanya banyak kejadian calon penumpang ketahuan menyelundupkan narkotika diselipan gesper terutama yang terbuat dari bahan kulit.

Ujung gesper yang biasanya besi, lanjut Neneng, juga bisa menjadi tempat kamuflase benda tajam yang mengancam keselamaaan penerbangan.

"Kita belajar dari kasus negara lain yang banyak kejadian. Bahan ikat pinggang kan ada yang dari kulit, dikhawatirkan diselipkan benda-benda yang bisa membahayakan keselamatan pengguna jasa bandara dan penerbangan," pungkas dia.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help