Kapolsek Pancoran Mas: Kalau Warga Miliki Informasi Peredaran Narkoba Bisa Langsung Lapor Polisi

Roni mencontohkan kasus penangkapan bandar ganja seberat delapan kilogram yang pernah dilakukannya.

Kapolsek Pancoran Mas: Kalau Warga Miliki Informasi Peredaran Narkoba Bisa Langsung Lapor Polisi
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kapolsek Pancoran Mas Kompol Roni Agus Wowor (kiri), Jumat (10/8/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Kapolsek Pancoran Mas Kompol Roni Agus Wowor mengimbau warga agar tak ragu melapor bila menemukan adanya peredaran narkoba di lingkungan.

Sekalipun informasi tersebut hanya berupa dugaan yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

"Kalau memiliki informasi ada peredaran narkoba di lingkungannya bisa langsung lapor ke polisi. Biar cuman sekedar dugaan tetap bisa dilaporkan, jadi jangan ragu," kata Roni di Pancoran Mas, Depok, Jumat (10/8/2018).

Menurutnya, informasi yang diberikan warga tidak hanya membantu polisi menangkap pelaku pengedar narkoba.

Tapi turut membuat pelaku pengedar berpikir dua kali sebelum mengedarkan narkoba.

"Kalau warganya aktif pasti pengedar narkoba ini juga pikir-pikir dulu sebelum mau transaksi di wilayah. Jadi pelaku enggak cuman takut sama polisi, tapi warga juga," ujarnya.

Amankan Penyuplai Sabu ke Jambret Tenda Oranye, Polisi: Ada Kaitan Narkoba dan Kejahatan Jalanan

Polisi Ungkap Sindikat Narkoba Internasional Pemasok ke Jambret Tenda Oranye: 30,3 Kg Sabu Diamankan

Roni mencontohkan kasus penangkapan bandar ganja seberat delapan kilogram yang pernah dilakukannya.

Penangkapan itu merupakan buntut dari informasi yang diberikan warga kepada pihak kepolisian.

"Saya pernah nangkap bandar ganja karena ada informasi dari warga. Barang buktinya delapan kilogram, itu disimpan di bawah kolong mobil pengedar," jelasnya.

Perihal cara peredaran narkoba, ia menyebut bandar kerap menentukan satu lokasi dan meninggalkan barang di tempat tersebut.

Setelah ditinggalkan, bandar akan menghubungi pembeli lewat telepon untuk mengambil dan meninggalkan uang pembayarannya.

"Kebanyakan kasus sekarang antara bandar dan penjual tidak saling bertemu secara langsung. Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon. Jadi mereka atur tempat transaksi," tutur Roni.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help