Ibadah Haji 2018

Memaknai Haji dan Tamu Allah

Jika jemaah haji adalah tamu maka tuan rumahnya adalah Allah SWT di “rumah-Nya”, baitullah.

Memaknai Haji dan Tamu Allah
FAYEZ NURELDINE
Ilustrasi Haji. 

TRIBUNJAKARTA.COM, MEKKAH - Tamu itu orang yang datang ke rumah atau tuan tumahnya. Tuan rumahlah yang menerima kedatangan orang lain di rumahnya. Jika jemaah haji adalah tamu maka tuan rumahnya adalah Allah SWT di “rumah-Nya”, baitullah. 

Ini bukan berarti Allah memiliki rumah seperti manusia tetapi Allah yang tak bertempat itu telah menyebutkan tempat sujud hambanya adalah rumah-Nya.

Adabnya orang bertamu adalah untuk mendekatkan diri dengan tuan rumahnya, demikian juga para jemaah haji yang telah dipanggi oleh Allah SWT datang berbondong-bondong dari seluruh arah perjuru dunia dengan cara berbeda-beda, bahkan di Indonesia antre bertahun-tahun untuk memenuhi panggilan-Nya. Tak ada hal yg lebih mendekatkan dengan “tuan rumah” kecuali mengikuti perintah dan larangan-Nya.

Yang tak kalah pentingnya dalam kunjungan memenuhi panggilan Allah SWT adalah ikhlas yang berdasarkan iman yang kokoh dalam dirinya. Maka dalam menyambut perintah-Nya hendaklah dilakukan dengan penuh ketulusan dan dipersembahkan hanya untuk-Nya tanpa menyekutukan dengan yang lain-Nya dan tidak karena gengsi apalagi pamer kepada orang lain.

Dalam pelaksanaan ibadah haji banyak mengandung latihan fisik dan kejiwaan para tamu Allah SWT. Secara fisik jelas bahwa semua pelaksanaan haji memerlukan kekuatan fisik, yaitu mulai perjalanan ihram, wukuf, tawaf, sa’i, mabit dan jemaraat. Bahkan dalam pelaksanaan ibadah haji tak ada bacaan-bacan wajib yang menjadi syarat sahnya haji.

Training kejiwaan dapat diresapi artinya dari satu persatu dalam rukun dan wajib ibadah haji. Saat memakai ihram jiwa ini dilatih dengan tauhid kepada Allah SWT bahwa diri manusia tak punya kekuatan dan kemampuan apa-apa. Dua helai kain ihram pertanda manusia ini telanjang yang hanya ditutupi kain putih. Seandainya kain itu dilepas maka aib (aurat) manusia terbuka. Itulah kesamaan seluruh manusia di depan Allah tak ada yg membedakan kecuali takwanya.

Saat wukuf di Arafah berarti kita diam sejenak dari hiruk pikuk kehidupan duniawi menuju ‘arafah (mengetahui) hakikat dirinya itu siapa. Jika ia telah tahu (‘arafa) siapa sebenarnya diri ini maka ia akan tahu siapa Tuhannya. Inilah lonceng pengingat kehidupan manusia yang terkadang terlena dengan kehidupan dunia.

Saat Mabit (menginap) di Muzdalifah dan Mina itulah makna perlunya beristirahat sejenak untuk mengumpulkan energi melawan serangan musuh agama, yaitu syaitan. Baik syaitan dalam dirinya berupa hawa nafsu maupun berupa bujuk rayu dari syaitan dan manusia.

Makanya selanjutnya dilakukan dlm ibadah haji adlh lempar Jumrah. Inilah simbol bahwa syaitan itu harus dijadikan musuh bagi manusia krn selamanya syaitan itu hanya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan

Ibadah tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran menunjukkan bahwa alam raya yang di bumi bahwa atap langit yang tujuh berputar di hari yang tujuh sebagaimana para malaikat dan jagad raya ini memutur di antara siklus tujuh putaran.

Halaman
12
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved