Polsek Tambun Sita Ratusan Bungkus Miras Oplosan dari Sebuah Warung di Kampung Kobak Bekasi

Dari tangan pelaku, Polisi menyita sebanyak 117 bungkus miras oplosan siap jual, 20 bungkus alkohol murni

Polsek Tambun Sita Ratusan Bungkus Miras Oplosan dari Sebuah Warung di Kampung Kobak Bekasi
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Kapolsek Tambun Kompol Rahmat Sujatmiko 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMBUN SELATAN - Mudin Mulyadi (40), warga Kampung Mekarsari Barat, Desa Mekarsari, Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi terpaksa digiring ke Mapolsek Tambun, Jalan Sultan Hasanuddin, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Ia ditahan lantaran kedapatan menjalankan bisnis minuman keras oplosan di warung miliknya di Kampung Kobak, RT03, RW16, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Kapolsek Tambun, Kompol Rahmat Sujatmiko mengatakan, kronologis penangkapan terjadi setelah adanya laporan dari masyarakat sekitar terkait adanya transaksi jual beli miras oplosan.

"Pada, sabtu 8 september 2018, tim Opsnal Reskrim Polsek Tambun langsung melakukan observasi ke TKP (tempat kejadian perkara) lalu mendapati adanya transaksi jual beli miras oplosan," kata Sujatmiko, Jumat (14/9/2018).

Setelah mendapatkan bukti-bukti kuat, Polisi langsung melakukan penggeledahan ke warung milik pelaku, di dalamnya terdapat ratusan bungkus oplosan siap jual serta sejumlah bahan baku racikan oplosan.

Bus TransJakarta Diblokade oleh Sopir Mikrolet M44 di Tebet Selama 30 Menit

"Jadi bukan hanya menjual, di tempat itu juga pelaku melakukan aktivitas produksi oplosan," jelas dia.

Menurut keterangan pelaku, dia baru satu bulan menjalankan bisnis miras oplosan, omzet yang didapat selama satu bulan itu, setiap harinya ia mampu menjula puluhan bungkus oplosan.

"Dia mengaku baru satu bulan, sehari bisa dapat keuntungan Rp 100 - 200 ribu," kata Sujatmiko.

Dari tangan pelaku, Polisi menyita sebanyak 117 bungkus miras oplosan siap jual, 20 bungkus alkohol murni, 18 botol Big Cola, delapan botol cairan perasa, satu bungkus pewarna, satu bungkus sodium, dan sejumlah alat untuk meracik oplosan seperti ember, gayung, dan saringan.

"Pelaku kita dijerat pasal 204 ayat 1 tentang perlindungan kesehatan, pasal 106 juncto pasal 24 tentang perdagangan, dan pasal 140 juncto 86 tentang pangan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara," ungkap Rahmat.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved