Begini Perjuangan Saka, Bocah SD yang Tiap Hari Melintasi Batas Indonesia-Malaysia Demi Sekolah

“Kehidupan kami di sini sudah susah, bertani menumpang kebun punya orang. Di Entikong pun kita sudah tidak punya apa-apa lagi," katanya

Begini Perjuangan Saka, Bocah SD yang Tiap Hari Melintasi Batas Indonesia-Malaysia Demi Sekolah
(KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan)
Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. 

TRIBUNJAKARTA.COM, ENTIKONG- Hari masih gelap. Waktu baru menunjukkan pukul 05.30 waktu Malaysia, atau pukul 04.30 WIB, Rabu (12/9/3018). Suasana di salah satu ruangan berukuran 4x3 meter yang semula sunyi menjadi sedikit ramai.

“Saka, bangun. Sudah pukul 05.30, Nak,” terdengar suara Darsono (53) membangunkan anaknya.

Tak berselang lama, bocah berpostur gempal yang bernama lengkap Nursaka ini pun bangun. Dia kemudian minum air putih hangat yang disiapkan oleh ayahnya sebelum membangunkannya tidur.

Setelah minum, Saka kemudian bergegas menuju kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian dia keluar dengan handuk melingkar dipinggangnya. Sang ayah pun menghampirinya dan membantunya memakai seragam sekolah merah putih.

Tepat ketika Saka selesai berpakaian, Julini, sang ibu, pun terbangun. Sementara itu, adik Saka yang nomor dua, Yoga (5), dan adik bungsunya Nurman (1,5) masih terlelap tidur di kamarnya.

“Buku dan PR nya jangan lupa dibawa ya Saka,” pesan sang ibu saat melihat Saka yang sudah berpakaian seragam lengkap dengan dasi dan topi merah.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Setiap pagi, dia dibantu ayahnya menyiapkan diri pergi ke sekolah di Entikong, Indonesia.(KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan)
Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Setiap pagi, dia dibantu ayahnya menyiapkan diri pergi ke sekolah di Entikong, Indonesia.(KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan) ()

Saka kemudian meraih tasnya dan kembali memeriksa isinya. Semua lengkap. Dia pun kemudian bergegas menuju teras mengenakan sepatu.

Waktu di arloji sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB atau pukul 06.00 waktu setempat. Suasana di luar rumah masih sangat gelap.

Saka kemudian berpamitan kepada ibunya dan menuju sebuah kantin yang terletak di tepi jalan Tebedu, Sarawak, Malaysia, yang berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya.

Di kantin itu, Saka ditemani sang ayah yang mencarikan tumpangan untuk dia berangkat menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong.

Halaman
1234
Penulis: Erik Sinaga
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help