Berjualan Kue Lepet Sejak 41 Tahun Lalu, Dahi Pedagang Kue Lepet Ini Pernah Disayat Preman

"Ketika darah saya menetes di kening, langsung saya dibantu warga sekitar menuju rumah sakit," kenangnya.

Berjualan Kue Lepet Sejak 41 Tahun Lalu, Dahi Pedagang Kue Lepet Ini Pernah Disayat Preman
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Pedagang kue Lepet dan Onde-Onde khas Betawi Sukmarwan di Setu Babakan pada Minggu (16/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Sejak tahun 1977, Sukmarwan telah berdagang makanan lepet dan onde-onde khas Betawi.

Dari Pondok Cina, ia bergegas menuju ke Setu Babakan untuk berjualan makanan itu setiap hari kepada para warga yang melintas.

"Saya ambil dagangan saya ke Depok, kemudian dari rumah saya di Pondok Cina saya bergegas menuju Setu Babakan untuk berjualan," ujarnya kepada TribunJakarta.com, Minggu (16/9/2018) di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Ia mengaku telah berjualan sejak 41 tahun yang lalu.

"Saya berdagang begini sejak 1977, pedagang yang sama kayak saya udah pindah pekerjaan, tapi saya masih bekerja seperti ini. Ya maklum saya hanya lulus SMP," ungkapnya.

Selama bekerja menjadi pedagang kue lepet, Sukmarwan pernah mendapatkan perlakuan tak mengenakkan.

Ia pernah dipalak oleh seorang preman.

"Saya pernah dipalak di daerah Ubin, Jagakarsa. Seorang pembeli membeli dagangan saya cukup banyak. Ketika mau bayar enggak mau. Saat menadahkan tangan saya meminta, orang itu menampik tangan saya lalu kening saya disayat pisaunya," tuturnya.

Sukmarwan pun merugi lantaran dagangannya tak dibayar.

"Ketika darah saya menetes di kening, langsung saya dibantu warga sekitar menuju rumah sakit," kenangnya.

Ia pun mengisahkan pengalaman pahit lainnya saat berdagang.

Tingkatkan Sinergitas Antara TNI Polri dan Masyarakat, Polsek Ciracas Gelar Apel Tiga Pilar

Live Streaming Final Japan Open: Pertahankan Status Juara, Marcus/Kevin Berharap Tuah Asian Games

Borneo vs Persib Bandung: Catatan Buruk Maung Bandung di Kalimantan dan Motivasi Berlipat Tuan Rumah

"Saya juga pernah mendapatkan duit palsu. Para pembeli tak selamanya baik-baik saja. Saya pernah terima uang 100 ribu palsu, saya baru sadar setelah pulang,"beber bapak dua orang anak ini.

Tapi ia tetap berjuang berdagang makanan itu demi mencukupi rezekinya.

"Ya untungnya enggak banyak. Tapi saya memikirkan kedua anak saya. Jadi saya belerja terus buat mereka," tandasnya.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved