Hampir Mirip, Ternyata Ini Perbedaan Gejala Stres dan Depresi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli di bawah ini menunjukkan perbedaan utama antara stres dan depresi, serta tanda-tanda peringatan yang harus diwaspadai.

Hampir Mirip, Ternyata Ini Perbedaan Gejala Stres dan Depresi Menurut Para Ahli
Istimewa
Ilustrasi depresi 

TRIBUNJAKARTA.COM - Meski gejala dan efeknya hampir mirip, namun ada perbedaan besar antara stres dan depresi.

Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang umum, dapat menyebabkan periode kesedihan yang berkepanjangan dan memicu pikiran bunuh diri.

Di lain sisi, stres juga masalah yang umum dan serius, tapi ia sering diremehkan dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beberapa ahli di bawah ini menunjukkan perbedaan utama antara stres dan depresi, serta tanda-tanda peringatan yang harus diwaspadai. Baik ketika dirasakan oleh diri sendiri, teman, anggota keluarga, dan rekan kerja.

Menjelaskan tentang depresi, psikiater dr. Dimitrios Paschos, mengatakan: “Depresi merupakan kondisi klinis yang memiliki beberapa gejala yang jelas. Ini merupakan penyakit umum yang cukup banyak menyerang populasi dunia. Sama seperti gangguan kardiovaskuler, depresi dikategorikan sebagai sebuah penyakit.”

Sementara itu, stres memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Apakah itu masalah keluarga, tekanan pekerjaan dan keuangan, juga kesepian -- stres hadir dalam jutaan bentuk.

Sesuatu yang dianggap seseorang sebagai tugas sehari-hari dan dapat diselesaikan dengan mudah, bisa menjadi sumber stres bagi yang lainnya. Jadi, menurut Paschos, stres lebih sulit untuk didefinisikan.

Ia menambahkan: “Stres bukan istilah yang kami rujuk dalam pengertian medis. Meski begitu, kami memiliki banyak cara untuk mengukur kecemasan. Banyak orang mengatakan ‘stres’ padahal sebenanrnya mereka berbicara tentang kecemasan.”

Kecemasan, dalam konteks klinis, berarti dua hal. Yang pertama, respons dari tubuh – misalnya ketika Anda merasa tegang, jantung berdebar lebih cepat, sulit menjaga keseimbangan, dan berkeringat ketika sesuatu yang buruk akan terjadi.

Selain itu, ada komponen berpikir. Biasanya orang-orang akan terus khawatir atau merenung. Dengan ini, stres bisa dikaitkan dengan masalah kecemasan.

Halaman
12
Editor: Erlina Fury Santika
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help