Banyak Pengguna Pukat Harimau, Nelayan Tradisional di Perairan Jakarta Sulit Dapat Ikan

Tuta mengaku pukat harimau merusak ekosistem laut karena ikut menghancurkan karang yang menjadi tempat tinggal ikan.

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Rafdi Ghufran

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Tak sedikit nelayan tradisional di Kampung Nelayan, Cilincing, Jakarta Utara, resah karena banyaknya penguna pukat harimau untuk mencari ikan di perairan Jakarta.

Satu di antaranya Tuta (49) yang telah menjalani profesi sebagai nelayan sejak 1984.

Menurut Tuta banyaknya pengguna pukat harimau membuat ikan-ikan di lautan semakin habis.

Pukat harimau tidak hanya menangkap ikan berukuran besar, namun juga yang kecil.

Tuta mengaku pukat harimau merusak ekosistem laut karena ikut menghancurkan karang yang menjadi tempat tinggal ikan.

Ia membandingkan kondisinya saat awal menjadi nelayan.

Saat itu hidup nelayan sejahtera karena ikan melimpah di lautan, tidak seperti sekarang yang semakin sulit didapat.

Dulu, dalam sehari Tuta mampu membawa pulang ikan mencapai ratusan kilogram, saat ini paling banter hanya puluhan kilogram.

Penulis: Rafdi Ghufran Bustomi
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help