Kasus Karen Membuat Profesional Takut Mengambil Kebijakan Strategis

Dalam perkara bisnis, kata Hadi, sangat wajar jika sebuah keputusan memiliki potensi merugi atau gagal.

Kasus Karen Membuat Profesional Takut Mengambil Kebijakan Strategis
Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNJAKARTA.COM- Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo mengaku prihatin terkait penetapan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan sebagai tersangka korupsi.

Penetapan Karena sebagai tersangka memunculkan diskursus tersendiri di kalangan ahli perminyakan. Para ahli mempertanyakan apakah aksi korporasi yang dilakukan Pertamina bisa dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum dan dapat dipidana.

"Menurut saya kurang tepat, ini corporate action kok di tarik ke ranah hukum. Kalau hasilnya tidak sesuai estimasi awal, berarti sebagai professional beliau tidak piawai dan layak tidak naik pangkat atau diberhentikan, namun bukan dipidanakan. Saya sebagai Wakil Ketua Umum IATMI amat sangat prihatin." Ujarnya saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat (28/9).

Dalam perkara bisnis, kata Hadi, sangat wajar jika sebuah keputusan memiliki potensi merugi atau gagal.

Akan tetapi, kata dia, hal ini baru dapat dibawa ke ranah pidana apabila Karen terbukti mendapatkan 'cash back' atau pembayaran dari pihak yang diuntungkan dalam investasi tersebut.

"Kami sebagai professional migas tidak mengerti. Karena ini bagian bisnis. Kecuali Kejagung sudah mengantongi bukti sahih transaksi tidak wajar," Jelasnya.

Perempuan Florida Ini Rela Keluarkan Kocek Sebesar Rp200 Juta Demi Dapatkan 3 Payudara

Kuliah di Dalam dan Luar Negeri, Tasya Kamila Tetap Bersahabat Dengan Perpustakaan

Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Menangis Ditahan

Sebagai profesional, Hadi menilai kejadian Karen ini akan berdampak buruk terhadap dunia bisnis dan investasi. Para pemangku kebijakan publik (kebijakan bisnis) tentunya akan berfikir ulang untuk melakukan keputusan-keputusan strategis.

"Kami sebagai professional dengan kasus seperti ini jadi ngeri-ngeri sedap melakukan keputusan strategis. Apalagi didunia migas itu high risk high kapital. Kalau semua resiko dipidanakan lebih baik enggak usah melakukan eksplorasi. Karena kalau dryhole ya bisa saja kami dituduh merugikan negara, wabil khusus yang kerja di BUMN atau BUMD," beber dia,

Mereka para profesional, lanjut Hadi, tentunya akan mengambil sikap yang paling aman untuk tidak agresif melakukan langkah-langkah strategis (slow exploration activities) karena bisa berujung ke penjara.

Padahal, menurut Hadi, jika tidak ada eksplorasi Production Decline akan turun drastis karena hanya kegiatan explorasi lah yang bisa menambah cadangan secara signifikan.

Dari kasus Karen ini, Hadi menyarankan pemerintah segera membuat kebijakan yang tegas agar bisa membedakan mana ranah politik dan mana ranah bisnis sehingga iklim bisnis dan investasi kondusif.

Hadi juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan Karen sudah tepat. Menurutnya, Pertamina harus go international, tidak hanya jago kandang agar produksi nasional juga bertambah dengan masuknya bagian hasil produksi dari luar negeri.

Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved