Pilpres 2019

Hashim Djojohadikusumo Akui Masih Jadi Penyandang Dana Terbesar untuk Prabowo Subianto

adik Prabowo Subianto itu mengatakan klaim pemerintah bahwa angka kemiskinan terendah sepanjang sejarah Indonesia adalah kebohongan publik

Hashim Djojohadikusumo Akui Masih Jadi Penyandang Dana Terbesar untuk Prabowo Subianto
TribunJakarta.com/Nawir Arsyad Akbar
Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menghadiri Rakernas DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia 2018 di Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Usianya sudah menginjak 64 tahun. Semangatnya untuk berjuang demi Indonesia tak pernah kendor.

Gaya bicaranya ceplas-ceplos, tanpa tedeng aling-aling. Kamis (18/10/2018) pagi sekitar pukul 10.00, Hashim Djojohadikusumo datang ke kantor Warta Kota dan Tribunnews.com di Palmerah, Jakarta Pusat.

Hashim Djojohadikusumo yang saat ini menjadi Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, datang ke markas Tribun Group didampingi Wakil Direktur Media dan Komunikasi Budi Purnomo dan Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Sumarsono.

"Terus terang saja, saya termasuk pendukung Pak Prabowo. Dan saya penyandang dana terbesar sampai sekarang," katanya mengawali pembicaraan.

Hashim Djojohadikusumo juga menjelaskan panjang lebar alasan Prabowo kembali maju menjadi calon presiden di 2019.

Mengapa? Karena keadaan Indonesia sedang sakit lama dan kami merasa terpanggil untuk menyelamatkan Indonesia.

"Kedua, keluarga kami gugur untuk Republik Indonesia. Kedua paman kami gugur dibunuh sekitar tahun 1946 dalam suatu pertempuran. Usianya masih muda. Dua dari adik ipar dari kakek kami, nenek kami juga tewas di Maguo tahun 1948. Ada empat keluarga kami yang gugur untuk Republlik. Mereka gugur tanpa pamrih, bukan untuk gaji, bukan untuk kekuasaan, bukan untuk jabatan, bukan untuk korupsi," katanya.

Pria yang juga adik Prabowo Subianto itu mengatakan klaim pemerintah bahwa angka kemiskinan terendah sepanjang sejarah Indonesia adalah kebohongan publik.

"Saya sudah muak dan capek baca kebohongan, kemiskinan terendah, what a lie, kita harus lawan kebohongan ini," ujarnya berapi-api.

Menurutnya, acuan kemiskinan dengan penghasilan Rp 400 ribu per bulan adalah sangat semu.

Halaman
123
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved