Satu Pelajar Pelaku Penyerangan di Cinere Dijerat UU Darurat

MDF, tersangka pembacokan satu pelajar SMA Al-Hidayah Lestari dijerat pasal 2 UU Darurat No 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman di atas 12 tahun.

Satu Pelajar Pelaku Penyerangan di Cinere Dijerat UU Darurat
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Ilustrasi borgol 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, LIMO - MDF, tersangka pembacokan satu pelajar SMA Al-Hidayah Lestari dijerat pasal 2 UU Darurat No 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman di atas 12 tahun.

Dia satu dari dua pelaku yang dibui terbukti membacok pelajar SMA Al-Hidayah dalam penyerangan di Jalan Punak, Pangkalan Jati, Jumat (19/10/2018) pukul 20.30 WIB.

"Dijerat pasal 2 UU Darurat No 12 tahun 1951, ancaman hukumannya di atas 12 tahun penjara. Dia terbukti membacok satu pelajar SMA Al-Hidayah menggunakan golok. Goloknya sekarang jadi barang bukti," kata Iskandar saat dihubungi, Senin (22/10/2018).

Sementara MNH dijerat pasal pasal 170 KUHP tentang Melakukan Kekerasan Terhadap Orang atau Barang di Muka Umum juncto 351 ayat 2 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Iskandar menuturkan, MDF dan MNH merupakan dua tersangka yang dibui karena terbukti membacok pelajar SMA Al-Hidayah, sementara MT, KB, IF, FA, ER,AZ, KD, MR, SR hanya terlibat sehingga tak dibui.

"MNH dijerat pasal 170 atau 351 KUHP, ancaman hukumannya tujuh tahun penjara. MDF dan MNH ini ditahan, sementara tersangka lain dikembalikan ke orangtuanya karena hanya terlibat," ujarnya.

Meski tak ditahan, Iskandar menegaskan mereka tetap menjalani proses hukum seusai pasal 358 tentang Turut Campur dalam Penyerangan atau Perkelahian.

Guna menangani sembilan tersangka tersebut, Unit Reskrim Polsek Limo bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas).

Iskandar menegaskan penyerangan yang menewaskan Rizky Ramadhan (17) dan melukai tiga temannya bukan merupakan tawuran.

Penyerangan yang melibatkan 30 pelajar itu salah sasaran dan mengira Rizky bersama sekira sembilan temannya merupakan musuh mereka.

"Bukan tawuran, mereka salah sasaran dan mengira rombongan korban sebagai musuh. Mereka balik ramai-ramai naik motor karena habis pulang nonton futsal. Kalau yang 11 tersangka itu niatnya memang tawuran," tuturnya.

Hingga saat ini, 11 tersangka pelajar sebuah sekolah menengah kejuruan di Jakarta Selatan itu ditetapkan sebagai tersangka dan diperkirakan terus bertambah mengingat jumlah pelaku mencapai puluhan.

Hasil pemeriksaan sementara, puluhan pelajar itu diduga tak hanya berasal dari satu sekolah tapi ada juga dari sekolah lain.

"Unit Reskrim Polsek Limo masih menangani kasus ini," lanjut Iskandar.

Penulis: Bima Putra
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved