Bahas Masalah Revitalisasi Situ Pedongkelan, Wali Kota Depok Akan Temui Gubernur Anies Baswedan

"Pak Gubernur DKI ingin bertemu dengan beberapa kepala daerah untuk realisasi program BKSP tahun 2019/2020," ujarnya.

Bahas Masalah Revitalisasi Situ Pedongkelan, Wali Kota Depok Akan Temui Gubernur Anies Baswedan
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Wali Kota Depok M. Idris Abdul Shomad di Balaikota Depok, Kamis (6/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Wali Kota Depok Mohammad Idris Abdul Shomad akan membicarakan revitalisasi Situ Pedongkelan dengan Pemprov DKI Jakarta, karena pengerjaannya dikeluhkan warga karena dianggap tak beres.

Ditemui di Balaikota Depok, Idris tak menampik adanya keluhan warga atas proyek senilai Rp 5.5 miliar yang berasal dari dana bantuan Gubernur Provinsi DKI Jakarta untuk Kota Depok.

"Itu juga termasuk bagian dari pembicaraan kami ke DKI. Masalah perbatasan, pendidikan, lingkungan dan sebagainya juga akan kami bicarakan," kata Idris di Balaikota Depok, Kamis (6/12/2018).

Idris menuturkan pembicaraan akan berlangsung pada pertemuan Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) yang dihadiri para Kepala Daerah.

Hal ini sejalan keinginan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang ingin bertemu langsung dengan sejumlah kepala daerah yang tergabung dalam BKSP.

"Pak Gubernur DKI ingin bertemu dengan beberapa kepala daerah untuk realisasi program BKSP tahun 2019/2020," ujarnya.

PDI Perjuangan Minta Arab Saudi Tarik Dubes Osama Terkait Cuitannya Reuni Akbar 212

Sebagai informasi, Situ Pedongkelan santer dibicarakan sejak warga, Pokdarwis, dan Juru Situ Pedongkelan mengeluhkan cara kerja kontraktor yang mengeruk lumpur dari pinggir.

Masalah kian panas usai PT Delima Intan Abadi melaporkan Ketua Pokdarwis Situ Pedongkelan, Ikhwanuddin karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Kepala Dinas PUPR Kota Depok, Manto Djorghi telah meminta maaf pada warga atas kerja konsultan dan kontraktor yang menangani dua paket proyek, yakni normalisasi sekaligus penurapan, dan penataan sempadan.

Manto meminta kontraktor mengeruk kembali bagian tengah Situ karena menurut warga pendangkalan di Situ Pedongkelan hanya berkurang 30 sentimeter.

"Makannya saya panggil pelaksana tadi. Jangan bilang volume sudah terpenuhi saja, lihat kenyataan di lapangan. Makannya saya minta beko harus turun lagi. Jadi proses pengerukan dilakukan kembali," kata Manto, Selasa (28/11/2018).

Dia juga meminta kontraktor membangun ulang turap yang rusak dekat aliran Kali Jantung.

Dijerat Sejumlah Kasus Hukum, Ini Sosok yang Khawatirkan Ahmad Dhani, Selain Mulan Jameela

Pasalnya turap rusak karena pengerukan difokuskan di area pinggir sehingga turap kehilangan pondasi.

"Tanggung jawab, enggak boleh harus diperbaiki. Enggak mau saya, harus dikembaliin seperti semula. Kenapa dikeruk dekat-dekat situ (bagian turap yang rusak," katanya.

Manto juga mengakui kontraktor yang menangani penataan sempadan salah karena memotong puffing block menggunakan kapak, bukan gerinda.

Selain hasilnya tak rapih, dana sebesar Rp 1.930.596.100 miliar yang digunakan untuk penataan sempadan dipertanyakan karena pengerjaan tak menggunakan alat sebagaimana mestinya.

"Enggak benar itu, ya enggak bolehlah motong pakai kapak. Itu mandornya ke mana, nanti saya ingatkan," kata Manto. (*)

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved