Sederet Fakta Buaya Peliharaan Serang Orang Hingga Tewas: Kronologi, Viral dan Reaksi Kapolda Sulut

Buaya peliharaan menyerang Kepala Laboratorium CV Yosiki, Deasy Tuwo (44) di Desa Ranowangko (wilayah Tanawangko), Kecamatan Tombariri, Minahasa.

Sederet Fakta Buaya Peliharaan Serang Orang Hingga Tewas: Kronologi, Viral dan Reaksi Kapolda Sulut
TRIBUNMANADO/FERDINAND RANTI
Buaya pemeliharaan yang menerkam Deasy Tuwo 

Ia mengatakan, anaknya juga sering menemani Deasy saat memberi makan buaya.

"Buaya itu setiap hari diberi makan ikan tuna, ayam bahkan hewan babi," katanya.

4. Polisi Cari WN Jepang Pemilik Buaya

Mr Ochiai, pemilik buaya yang menerkam Deasy Tuwo tak ada di lokasi kejadian di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, belum tahu keberadaannya.

Amatan tribunmanado.co.id, pemilik perusahaan CV Yosiki tak hanya memelihara buaya tapi ikan arwana dan pembibitan mutiara.

Kapolres Tomohon AKBP Raswin B Sirait mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih mencari pemilik buaya berukuran 5 meter tersebut.

"Kita masih mencari pemilik buaya tersebut, selain itu jiga kami sudah berkoordinasi dengan camat dan hukum tua ," katanya.

5. Cerita Mantan Pawang Buaya

Merry Supit (36) terkejut mendengar kabar kematian Deysi Tuwo (44) yang diterkam buaya milik pemimpin perusahaan pembibitan mutiara itu.

Pasalnya selama 18 tahun, Merry pernah bekerja di tempat itu dan mengundurkan diri pada 2005 silam.

"Saya sebagai pegawai pembibitan mutiara. Saat itu buaya yang juga diberi nama seperti nama saya ini, masih berukuran sama seperti kayu ini," kata Merry sembari menunjuk batang pohon berukuran panjang 1,50 meter yang tergeletak di sampingnya.

Sejak dahulu, lanjut dia, buaya itu sering diberi makan ayam, tongkol, dan ikan tuna.

Warga Antusias di Kandang Buaya yang Terkam Deysi
Warga Antusias di Kandang Buaya yang Terkam Deysi (TRIBUNMANADO/ALEXANDER PATTYRANIE)

"Semuanya harus fresh, dia tak mau makan bila sudah dibekukan atau sudah mati beberapa hari," kata warga Jaga X Ranowangko.

Ia mengungkapkan, beberapa waktu lalu buaya itu ingin diserahkan ke penangkaran namun mereka menolak karena tak punya kandang sebesar milik perusahaan itu.

Menurut Merry, kematian Deysi diketahui dua hari setelah peristiwa. Pasalnya, saat Deysi diterkam buaya, tak ada saksi mata yang melihat

6. Kondisi Jasad Korban

Maikel Mokodompit, pemandi jenasah di RSUP Kandou mengaku kaget saat mengetahui jasad Deasy Tuwo yang dimandikannya merupakan korban yang diterkam buaya.

Maikel Mokodompit, mengaku selama delapan tahunmenjadi personel di unit pemulasaran jenazah RSUP Kandou Malalayang, baru kali ini ia memandikan jenazah korban buaya.

Maikel Mokodompit, yang ditemui sedang bersantai di depan unit pemulasaran mengaku ada tiga orang yang memandikan jasad tersebut.

Proses pemandian tak lama, tak sampai tiga puluh menit.

Maikel menggambarkan, saat itu bagian tubun korban sudah habis.

Tersisa kepala dan dua kaki. Tangan pun sudah raib.

"Kemungkinan buaya menerjangnya dari pinggir. Mungkin juga karena masih kenyang, makanya tak makan sampai habis," ujarnya.

Baginya jasad yang tak utuh sudah biasa.

Hanya saja memang baru kali ini ia menangani korban gigitan buaya.

7. BKSDA Sulut akan Evakuasi Buaya

Warga tak bisa seenaknya memelihara satwa liar. Harus ada izin dari pihak berwenang.

Dari izin inilah akan ditinjau kelayakan lokasi dan hal-hal yang mendukung lainnya.

"Harus ada izin, ada aturan yang mengatur tentang itu. Tak bisa sembarang," ujar Hendrik Rundengan, personel BKSDA Sulawesi Utara, Jumat (11/1/2018).

Tim penyelamat dari BKSDA Sulut langsung menurunkan tim ke lokasi buaya menerkam seorang wanita di Tombariri, Minahasa

Namun karena keterbatasan personel, buaya tersebut belum bisa dievakuasi.

Rencananya buaya tersebut akan dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Bitung.

Hewan tersebut tak bisa dibunuh, demikian Hendrik. Sebab ada isu beredar karena amarah warga, sehingga buaya tersebut akan dibunuh.

"Kami sudah berkoordinasi dengan PPS Tasikoki Bitung, rencananya akan dievakuasi ke sana. Tim rescue sudah turun tadi, tapi belum bisa evakuasi karena keterbatasan," ujarnya.

Buaya ini juga menjadi barang bukti polisi untuk kasus kematian korban.

Bahwa benar, korban memang dimakan buaya. Bisa juga jika ada kemungkinan lain, buaya ini tetap harus diamankan.

8. Warga Ramai Datangi Lokasi

Kepala Laboratorium CV Yosiki tempat pembibitan mutiara, Deysi Tuwo (44), tewas dimakan buaya peliharan pimpinan perusahaan itu yang berlokasi di Jaga VII Desa Ranowangko Kecamatan Tombariri, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (11/01/2019).

Menurut warga setempat, Deysi yang merupakan warga Desa Suluun Tumpaan Minahasa Selatan, diterkam saat memberi makan buaya.

"Karena pada Rabu (09/01/2019), kami masih melihatnya masuk ke tempat itu," ujar Merry saat ditemui Tribunmanado.co.id di tempat kejadian perkara.

Dari amatan Tribunmanado.co.id, pukul 13.30 Wita, buaya sepanjang empat meter yang tampak sangat gemuk itu masih berada di kandangnya.

Sejumlah warga tampak antusias mengamati pergerakan buaya itu.

Bahkan ada yang melemparinya batu sehingga buaya meronta dan membuka mulut.

Namun, dari bagian luar kompleks itu sudah diberi garis polisi.

9. Kapolda Sulut Terkejut

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol R Sigid Tri Hardjanto sempat kaget, saat awak media menyodorkan informasi itu kepada jenderal bintang dua.

"Wah, di mana? Di mana itu, kapan kejadiannya coba saya teliti dulu. Perintahkan jajaran saya untuk meneliti informasi tersebut karena saya belum tahu itu," kata Kapolda didamping Kabid Humas Kombes Pol Ibrahim Tompa kepada wartawan usai melakukan lawatan di Komisi pemilihan umum (KPU) Provinsi Sulut, Jumat (11/1/2019).

Dijelaskan kapolda, pada prinsipnya yang menyebabkan luka hingga hilangnya nyawa orang ada regulasi mengatur. Pihaknya akan melihat kronologis persitiwa tersebut. (Aldi Ponge)

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul 9 Fakta Kasus Buaya Terkam Deasy Tuwo di Ranowangko: Kronologi, Kondisi Jasad hingga Milik WN Jepang

Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tibun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved