Gema Bhinneka Tunggal Ika Nilai Indonesia Harus Dipimpin Orang yang Cerdas dan Pro Demokratis

Bahwa Indonesia harus dipimpin oleh orang yang cerdas dan mempunyai visi untuk membangun Indonesia kedepan

Gema Bhinneka Tunggal Ika Nilai Indonesia Harus Dipimpin Orang yang Cerdas dan Pro Demokratis
Istimewa
Ketua Umum Gema Bhinneka Tunggal Ika, Gifari Shadad Ramadhan 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Mendekati pemilihan presiden (Pilpres) pada 17 April 2019 mendatang, rakyat Indonesia masih terus mengamati dan meneliti para calon presidennya (capres) agar tidak keliru dalam menentukan hak pilihnya.

Kesadaran dan keintelektualan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat, haruslah selalu menyampaikan yang sebagaimana baiknya.

Ketua Umum Gema Bhinneka Tunggal Ika, Gifari Shadad Ramadhan mengatakan bahwa sejarah kelam (pelanggaran HAM) di Indonesia tidak boleh terulang kembali.

Ia menilai bahwa Mahasiswa perlu memandang persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) dengan tegas.

“Kita sebagai mahasiswa yang sadar akan sejarah kelam pada masa lalu, menilai era pembungkaman penindasan dan penculikan sudah cukup mengisi perjalanan buruk bangsa Indonesia. Kami secara tegas tidak menginginkan paradigma sistem lama digunakan kembali terkhusus di zaman orde baru yang tentu saja sangat bertentangan dengan sistem demokrasi Indonesia saat ini," kata Gifari dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/1/2019).

Bahwa Indonesia harus dipimpin oleh orang yang cerdas dan mempunyai visi untuk membangun Indonesia kedepan. Pemimpin ke depan haruslah orang yang pro demokratis, tidak konservatif dengan menggunakan sistem lama dan juga bersih dari kasus pelanggaran HAM.

Yang paling utama adalah yang pro kebhinekaan karena keseragaman di Indonesia harus tetap dijaga dan dirawat, maka dengan itulah Indonesia ke depan akan menjadi Negara yang maju.

Selain itu, Gifari juga mengingatkan agar mahasiswa harus turut serta memilih calon pemimpin yang tidak terlibat dalam kasus pelanggaran HAM.

Senada, Ketua Bidang Politik dan Hubungan Luar Gema Bhinneka Tunggal Ika, Boy Agustinus, menyatakan isu terkuat untuk Pilpres hingga kini adalah mengenai kejahatan pelanggaran HAM, karena dinilai sangat penting, seperti penculikan para aktivis.

IPW: Pembentukan Tim Gabungan Kasus Penyiraman Novel Baswedan Sarat Kepentingan Politik

Hal tersebut menjadi fokus dan sorotan bagi para aktivis mahasiswa, sehingga menganjurkan rakyat Indonesia untuk tidak memilih capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM.

“Suara kita aktivis mahasiswa dari waktu ke waktu tidak akan pernah berubah, meski pemilu ataupun tidak, aktivis selalu konsisten untuk menolak capres yang terindikasi kejahatan pelanggaran HAM untuk menjadi Presiden. Kita mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa calon pemimpin yang akan dipilih itu harus diketahui latar belakangnya," ujar Boy.

Maka dari itu sebagai mahasiswa harus memilih secara cerdas siapa yang cocok untuk menjadi pemimpin 250 juta rakyat Indonesia yang beragam ini dan harus turut serta mensukseskan jalannya demokrasi Indonesia dengan aman dan damai.

Terakhir, Gema Bhinneka Tunggal Ika dengan tegas dan atas dasar intelektualitas serta kesadaran menolak capres yang terindikasi melanggar HAM.

Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved