Tak Mau Tanda Tangani R&D, Puluhan Keluarga Korban Lion Air Belum Dapat Uang Santunan

Dikatan Neius, bila pihak keluarga menandatangi perjanjian tersebut maka mereka tidak bisa menuntut Lion Air dikemudian hari.

Tak Mau Tanda Tangani R&D, Puluhan Keluarga Korban Lion Air Belum Dapat Uang Santunan
TribunJakarta/Dionisius Arya Bima Suci
Sejumlah keluarga korban Liona Air PK-LQP terkatung-katung setelah menolak keluar dari Hotel Ibis, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (23/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Tiga bulan pascakecelakaan Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP, puluhan keluarga korban pesawat nahas tersebut belum juga mendapatkan uang santunan atas meninggalnya anggota keluarga mereka.

Pasalnya, mereka menolak menandatangani perjanjian release and discharge (R&D) yang menjadi ketentuan apabila pihak keluarga ingin mendapatkan uang santunan sebesar Rp 1,25 miliar ditambah uang ganti rugi bagasi sebesar Rp 50 juta.

"Seluruh korban berjumlah 189 orang. Saya enggak tahu persis yang sudah ambil berapa, tapi yang belum tanda tangan ada sekira 80 orang," ucap Neuis Marfuah (46), keluarga korban atas nama Vivian Afifa (23), Rabu (23/1/2019).

Dikatan Neius, bila pihak keluarga menandatangi perjanjian tersebut maka mereka tidak bisa menuntut Lion Air dikemudian hari.

"R&D itu mengikat kami, jadi seolah setelah uang asuransi cair, kami tidak berhak menuntut kepada pihak mana pun," ujarnya saat ditemui di Hotel Ibis, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Itu yang kami keberatan, di situ kan ada hak kami," tambahnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa hak keluarga korban yang hingga kini masih terus diperjuangkan.

"Pertama, 64 penumpang yang belum teridentifikasi, hak kami adalah sampai keluarga kami bisa teridentifikasi. Kedua, perbolehkan kami menerima asuransi tanpa embel-embel R&D," kata Neuis.

Sementara itu, Hengky Bocana, keluarga korban Lion Air lainnya mengingkan, pihak Lion Air mematuhi Peraturan Menteri Perhubungan No 77 tahun 2011 yang tertuang di Pasal 3 ayat (2), dimana keluarga korban berhak atas uang santunaj meninggal dunia tanpa syarat harus menandatangani R&D.

"Pada Permen 77, maskapai diwajibkan menyantuni keluarga korban Rp 1,25 miliar tanpa syarat. Kedua bagasi totalnya Rp 4 juta tapi diganti Rp 50 juta dan penyerahan keduanya pakai R&D," ucapnya.

"Itu kan hanya untuk perjanjian barang, kami tersinggung kalau disatukan," tambahnya.

Seperti diketahui, sebanyak 189 penumpang Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP menjadi korban setelah pesawat yang mereka tumpangi terjatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 lalu.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) pun telah berhasil mengidentifikasi 125 korban korban.

Sedangkan, 64 orang lainnya hingga kini belum juga ditemukan.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved