Tradisi Pemberian Cokelat Hari Valentine, Bermula dari Trik Tukang Cokelat Richard Cadburry

Ketika Valentine tiba, toko-toko menyediakan beraneka macam cokelat, dari ukuran hingga rasa yang berbeda.

Tradisi Pemberian Cokelat Hari Valentine, Bermula dari Trik Tukang Cokelat Richard Cadburry
dailymail.co.uk
Ilustrasi Cokelat 

TRIBUNJAKARTA.COM - Hari Valentine identik dengan pemberian hadiah dari seseorang kepada kekasih dan orang tersayang. Ada bermacam hadiah yang diberikan, mulai dari permen, boneka, kartu ucapan, hingga yang paling sering diberikan adalah cokelat.

Ketika Valentine tiba, toko-toko menyediakan beraneka macam cokelat, dari ukuran hingga rasa yang berbeda.

Lantas, kenapa Valentine identik dengan cokelat ?

Selama ini, hari kasih sayang memang terkait kisah Santo Valentine. Saat itu, Santo Valentine membantu pasangan untuk menikah, saat pernikahan dilarang oleh Kerajaan Romawi.

Dilansir dari History.com, pada abad pertengahan, muncul tradisi romantis. Para kesatria akan memberikan mawar kepada kekasih mereka, dan menyanyikan lagu romantis. Selain itu, banyak juga surat cinta yang dibuat dengan bahasa puitis.

Ketika itu, gula menjadi komoditas yang bernilai tinggi di Eropa. Jadi tak banyak yang memberikan permen atau cokelat sebagai hadiah.

Pada 1840-an, gagasan Hari Valentine sebagai hari libur menyebar ke berbagai negara. Tentunya Inggris terkena dampak ini.

Pihak Kerajaan Inggris juga memiliki tradisi memberikan hadiah. Hadiah itu beragam, baik makanan maupun kado tertentu.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Richard Cadbury, dari keluarga keturunan pembuat cokelat asal Inggris. Dialah yang dikenal sebagai sosok yang melariskan tradisi pemberian cokelat pada saat Valentine.

Sebelumnya, cokelat memang mahal dan hanya mampu dibeli oleh kalangan elite. Sebaliknya, perusahaan Cadbury menghadirkan cokelat dengan harga murah.

Halaman
12
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved