Warga Tuntut Uang Kompensasi Bau, Kepala Desa Burangkeng: Beda Sekali Sama Bantar Gebang

Warga sekitar Bantar Gebang seperti yang diketahui mendapatkan dana kompensasi bau setiap bulannya.

Warga Tuntut Uang Kompensasi Bau, Kepala Desa Burangkeng: Beda Sekali Sama Bantar Gebang
TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Kepala Desa Burangkeng, Nemin 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, SETU - Warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, menuntut adanya perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi, terkait dampak lingkungan tempat tinggalnya.

Pasalnya, selama puluhan tahun keberadaan TPA Burangkeng, warga sekitar tidak pernah mendapat fasilitas apapun dari pemerintah daerah, seperti halnya kompensasi bau atau fasilitas kesehatan.

Kepala Desa Burangkeng, Nemin, mengatakan, selama ini pemerintah daerah tidak pernah memberikan perhatian khusus terhadap warga yang terdak TPA. Bahkan dia menilai, Desa Burangkeng dianggap sama saja dengan desa-desa lainnya yang tidak terdampak TPA.

"Nggak ada perhatian dari pemerintah daerah, disamakan sama wilayah lain, padahal warga kita tiap hari kena dampak bau dari keberadaan TPA, misalnya ADD (alokasi dana desa) kita sama kaya desa lain, atau program dari pemda yang prioritas ke Burangkeng juga gak ada, sama aja," kata Nemin, Kamis, (14/2/2019).

Nemin bahkan membandingkan dengan wilayah tetangga Kecamatan Bantar Gebang yang berada di Kota Bekasi. Warga sekitar Bantar Gebang seperti yang diketahui mendapatkan dana kompensasi bau setiap bulannya.

Wilayah Desa Burangkeng sendiri berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Bantar Gebang, letak TPA Burangkeng dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang serta TPA Sumur Batu juga terbilang cukup dekat.

"Memang kalau kita lihat selama ini beda sekali dengan Bantar Gebang, jalan amburadul, uang bau tidak ada, sarpras (sarana dan prasarana) kesehatan gak ada perhatian," paparnya.

Nemin selaku kepala desa telah berulang kali menerima aspirasi terkait adanya perhatian dan penyediaan fasilitas khusus terhadap warga yang terdampak TPA. Namun, pemerintah urung mengabulkan permintaan warga.

Kapasitas TPA Burangkeng Overload Sejak 2014

Puluhan Tahun Tinggal Dekat TPA Burangkeng, Warga Tutut Kompensasi Uang Bau

Ruang TPA Hampir Selesai, ASN Bisa Titip Anak di Kantor Wali Kota Jakarta Utara Mulai Maret

"Sebernya kalau logikanya kan kita sama-sama kebauan, warga Bantar Gebang sama kebauan sampah tapi mereka dapet uang bau dari DKI, terus kita juga sama kebauan, tapi kenapa di sana bisa si sini enggak," ungkapnya.

"Inikan tinggal kemauan pemerintah daerah, pemerintahnya sama pemerintah Indoenesia, saya udah pernah sampaikan ke Bupati, Gubernur," jelas dia.

Di Desa Burangkeng terdiri dari 18 RW, adapun wilayah yang paling terdampak TPA berada di tiga RT dengan jumlah sekitar 500 kartu keluarga.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved