Pilpres 2019

BERITA EKSKLUSIF: Buzzer Hoaks Bekerja Pakai Target, Pengusaha Ini Sumbang Rp 2 Miliar

Buzzer yang tidak mendapatkan respon dari akun warga net (netizen), setidaknya sebanyak 20 akun lain dan terulang hingga lima kali, dianggap gagal

BERITA EKSKLUSIF: Buzzer Hoaks Bekerja Pakai Target, Pengusaha Ini Sumbang Rp 2 Miliar
TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra
ILUSTRASI - Tokoh FKUB bersama TNI Polri memasang spanduk menolak adanya kampanye, hoaks, SARA dan radikalisme di tempat ibadah. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Meskipun tim buzzer tidak memilah-milah informasi yang akan disebarnya berdasar fakta kebenaran ataukan bohong, dalam kerja, penilaiannya akan kinerja cukup ketat.

Buzzer yang tidak mendapatkan respon dari akun warga net (netizen), setidaknya sebanyak 20 akun lain dan terulang hingga lima kali, maka ia dianggap gagal dan akan sanksinya diberhentikan.

Pun begitu dengan buzzer yang tidak memenuhi kuota untuk mengunggah konten.

"Kalau akunnya dihapus oleh Twitter atau Facebook, biasanya masih bisa diakali. Tapi kalau sudah tidak produktif, ya dipecat langsung. Mandornya akan cari yang lain," tutur Andi, seorang buzzer profesional yang mendapat order pada pilpres 2019 saat ditemui Tribun Network di kawasan Bekasi, Jawa Barat, pertengahan Februari 2019.

Mengenai siapa penyandang dana, Andi meminta untuk tidak dikutip nama jelasnya.

Ia mempersilakan Tribun Network untuk memberi rujukan atau clue nama besar dari partai politik, pendukung kedua calon presiden.

Mereka yang ikut turun tangan dalam pertarungan udara memiliki jabatan penting di partai politik seperti ketua DPP, wakil sekjen, hingga ketua partai tingkat daerah.

Tidak jarang, mereka yang membayar berprofesi sebagai pengusaha yang bersedia menggelontorkan dananya kepada relawan dan tim udara yang sudah dibentuk sebelumnya.

"Dana dari pengusaha, masuknya ke relawan atau ke bos buzzer langsung," ucapnya.

ILUSTRASI - Tokoh FKUB bersama TNI Polri memasang spanduk menolak adanya kampanye, hoaks, SARA dan radikalisme di tempat ibadah.
ILUSTRASI - Tokoh FKUB bersama TNI Polri memasang spanduk menolak adanya kampanye, hoaks, SARA dan radikalisme di tempat ibadah. (TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra)

Tidak semua buzzer bekerja atas imbalan uang. Ada juga sukarela atas dasar kepentingan ideologis.

Halaman
1234
Editor: ade mayasanto
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved