Hotel Hingga Universitas Diduga Masih Gunakan Air Tanah, PDAM Depok Khawatir Tanah Ambles

Oleh sebab itu, Ima menuturkan kemungkinan besar perusahaan tersebut menggunakan air tanah dan membeli air curah yang melalui mobil-mobil tangki.

Hotel Hingga Universitas Diduga Masih Gunakan Air Tanah, PDAM Depok Khawatir Tanah Ambles
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Pekerja dari PDAM Tirta Asasta Depok saat menangani pecahnya pipa di Jalan Raya Duta Pelni, Sukmajaya, Depok, Kamis (15/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Hingga saat ini, pemakaian air tanah di kawasan elite Margonda, Kota Depok, Jawa Barat, masih cukup tinggi peminatnya

Manajer Pemasaran PDAM Tirta Asasta Kota Depok Imas Dyah Pitaloka menuturkan, hampir seluruh perusahaan besar di Jalan raya Margonda masih menggunakan air tanah.

“Hampir semua retail dan rumah makan belum berlangganan PDAM. Kalau hotel yang belum langganan itu ada Hotel Bumi Wiyata dan Universitas Gunadarma yang sampai saat ini belum berlangganan PDAM," ujar Imas dikonfirmasi, Rabu (13/3/2019).

Oleh sebab itu, Ima menuturkan kemungkinan besar perusahaan tersebut menggunakan air tanah dan membeli air curah yang melalui mobil-mobil tangki.

Imas menjelaskan, pihaknya telah melayangkan surat imbauan pada tempat makan elite, Hotel Bumiwiyata, dan Universitas Gunadarma agar beralih menggunakan air PDAM.

“Kalau untuk hotel Bumiwiyata dan Universitas Gunadarma sudah dua kali kami layangkan suratnya terkait penawaran layanan air bersih melalui perpipaan PDAM, belum direspon hingga saat ini," jelasnya.

Jika terus tidak diawasi dan terus menggunakannya secara berlebih, Imas mengkhawatirkan hal tersebut akan berdampak pada keberadaan air tanah di Kota depok.

Polisi Sebut Jasad Istri dan Anak Terduga Teroris di Sibolga Hancur: Tim INAFIS Identifikasi

Polisi Duga Istri dan Anak Terduga Teroris di Sibolga Tewas: Diduga Gunakan Bom Lontong

Ibu Ledakkan Diri Bersama Anaknya di Kamar dan Kronologi Penangkapan Terduga Teroris di Sibolga

Kemudian, berdasarkan peneliti kebijakan ekonomi, asumsi jumlah manusia yang tinggal di Kota Depok bisa mencapai total lebih dari 2,5 juta jiwa.

Apabila 2,5 juta jiwa lebih tersebut menggunakan sumber daya air di Kota Depok yang seluas 200,29 kilometer, maka penggunaan air tanah perlu dibatasi.

"Jika tidak segera dibatasi, air tanah yang ada di Kota Depok akan semakin habis dan beresiko tanah yang ada di Kota Depok akan amblas,” imbuhnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved