Pilpres 2019

Soal Penculikan Aktivis, Elsam: Jalankan Rekomendasi Komnas HAM

Kenapa isu Prabowo soal penghilangan aktivis 1998 itu kerap mampir saban Pilpres? Deputi Direktur Riset Elsam Wahyudi Djafar kasih alasan.

Soal Penculikan Aktivis, Elsam: Jalankan Rekomendasi Komnas HAM
Warta Kota/Henry Lopulalan
DEMO PELANGGARAN HAM - Puluhan mahasiswa berdemo meminta penyelesaian kasus pelanggaran HAM di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jumat (25/9/2015). Mereka meminta kepada Presiden Jokowi untuk menyelesaikan pelanggaran hukum berat. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Isu pelanggaran HAM terkait Prabowo Subianto mencuat lagi seiring cerita anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar.

Ia mengungkap kronologi pemecatan Prabowo sebagai mantan Danjen Kopassus karena kasus  penculikan aktivis 1998.

Kenapa isu Prabowo soal penghilangan aktivis 1998 itu kerap mampir saban Pilpres? Deputi Direktur Riset Elsam Wahyudi Djafar memberikan analisisnya. 

Tepatnya pada Selasa (24/7/2018), ada 34 dokumen rahasia Arsip Keamanan Nasional (National Security Archive) dari George Washington University dirilis. 

Sebagiannya mengungkapkan keterlibatan Prabowo, didasarkan pada sumber mahasiswa, dalam penculikan aktivis pro-demokrasi 1998.

Menurut Wahyudi, kasus penghilangan paksa terhadap puluhan aktivis masa itu mencuat lagi lantaran kasus ini belum tuntas secara hukum.

Sebenarnya, kata Wahyudi, pada 2009 Komnas HAM sudah rekomendasikan penyelidikan kasus penghilangan para aktivis itu ke Kejaksaan dan DPR RI.

“Ketika itu DPR bentuk Pansus dan mengeluarkan rekomendasi atas hal itu,” kata Wahyudi seperti dilansir Kontan dalam artikel: Elsam desak rekomendasi Komnas HAM soal penculikan aktivis segera dijalankan, Jumat (15/3/2019).

Ada empat rekomendasi hasil Pansus DPR. Pertama, merekomendasikan Presiden RI membentuk Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc. 

Kedua, merekomendasikan Presiden RI, institusi pemerintah, dan pihak terkait untuk mencari 13 aktivis yang masih hilang hingga saat ini.

Halaman
1234
Editor: Y Gustaman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved