Info Kesehatan

7-8 Gigi Masyarakat Indonesia Rata-rata Rusak

DMF-T masyarakat Indonesia di tahun 2018 melonjak jadi 7,1 yang artinya rata-rata terdapat 7 sampai 8 gigi setiap orang di Indonesia yang rusak.

7-8 Gigi Masyarakat Indonesia Rata-rata Rusak
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Ketua Umum PDGI Dr. drg. RM Sri Hananto Seno, SpBM (K)., MM di Universitas Jayabaya, Jakarta Timur, Minggu (17/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PULO GADUNG - Tingkat kesehatan gigi dan mulut atau  Decay Missing Filling (DMF-T) masyarakat Indonesia sekarang tak hanya termasuk buruk bila dibanding negara lain, tapi juga menurun sejak lima tahun terakhir.

Merujuk riset kesehatan dasar (Riskesadas) Indonesia tahun 2007, Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Dr. drg. RM Sri Hananto Seno, SpBM (K)., MM mengatakan rata-rata DMF-T masyarakat Indonesia tercatat 5,4.

Meski turun jadi 4,6 di tahun 2013, Seno menuturkan DMF-T masyarakat Indonesia di tahun 2018 melonjak jadi 7,1 yang artinya rata-rata terdapat 7 sampai 8 gigi setiap orang Indonesia yang rusak dan perlu diobati.

"Artinya apa, setiap orang itu ada kerusakan 7 sampai 8 gigi, itu banyak sekali. Sedangkan dunia hanya 2,5. Kita di tahun-tahun sebelumnya lebih bagus, sekarang malah 7,1," kata Seno di sela diskusi Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Indonesia, Pulo Gadung, Minggu (17/3/2019).

Seno menjelaskan ada dua hal yang membuat DMF-T masyarakat Indonesia menurun, pertama dibubarkannya Direktorat Kesehatan Gigi dan Mulut oleh Kementerian Kesehatan.

Pembubaran tersebut membuat tak ada pihak pemerintah yang mengurusi masalah kesehatan mulut dan gigi masyarakat Indonesia

"Kedua sistem BPJS muncul, dalam BPJS itu enggak ada preventif dan pre-emtif. Hanya program kuratif atau memberi pelayanan kesehatan tapi enggak ada pencegahannya, sakit ya jalan terus," ujarnya.

Wakapolda Ingatkan Pasukan Tidak Bermain Handphone Saat Amankan Debat Putaran ke Tiga

Dapat Doorprize Kamera Mirrorless, Pengunjung Ini Sampai Tidak Bisa Berkata-kata 

Menurutnya kekurangan BPJS yakni tidak adanya program preventif dan pre-emtif atau perawatan kesehatan gigi sehingga hanya berguna saat masyarakat mengalami sakit gigi.

Ketiadaan pencegahan penyakit dalam program BPJS disebut Seno juga berdampak buruk pada pemerintah karena membenahi APBN dan akhirnya defisit.

"BPJS hanya program kuratif atau memberi pelayanan kesehatan tapi enggak ada pencegahannya, sakit ya jalan terus. Artinya apa, setelah beberapa tahun naik tinggi sekali, dari 4,5 jadi 7,1," tuturnya.

Kesehatan gigi dan mulut, lanjut Seno tak dapat dianggap enteng karena dapat menyebar ke otak, jantung dan bagian lain sehingga dapat mengancam nyawa.

Namun perlu peran semua pihak dalam menjaga kesehatan mulut dan gigi masyarakat, khususnya kesadaran masyarakat dan peran pemerintah.

"Mulut itu kan pintu gerbang. Contoh orang sakit gigi itu kan peradangan hebat, peradangan itu bisa meluas sampai ke otak. Jadi dari gigi bisa ke otak, ke jantung. Kalau ini dibiarkan saja berapa biaya yang dikeluarkan?" lanjut Seno.

Penulis: Bima Putra
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved