Penembakan di Selandia Baru

Keluarga WNI Korban Serangan di Selandia Baru Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

"Harapan kami pelaku dihukum seberat-beratnya, seumur hidup," kata Denny (53), adik ipar Lilik, saat ditemui TribunJakarta.com.

Keluarga WNI Korban Serangan di Selandia Baru Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya
POOL New via Sky News
Brenton Tarrant ketika dihadirkan di pengadilan Sabtu (16/3/2019). Tarrant dikenai dakwaan pembunuhan kepada jemaah Masjid Al Noor dan Linwood ketika Shalat Jumat di Christchurch, Selandia Baru (15/3/2019). Wajahnya diburamkan untuk mempertahankan haknya mendapat persidangan yang adil. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Keluarga Lilik Abdul Hamid (57), Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban serangan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019), meminta pelaku aksi sadis itu dihukum seberat-beratnya.

"Harapan kami pelaku dihukum seberat-beratnya, seumur hidup," kata Denny (53), adik ipar Lilik, saat ditemui TribunJakarta.com di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (17/3/2019).

Brenton Tarrant, pelaku serangan di dua masjid di Christchurch yang menewaskan 49 orang, juga telah didakwa melakukan pembunuhan oleh pengadilan setempat, dan terancam hukuman seumur hidup.

Di sisi lain, Denny merasa terkejut dengan serangan yang terjadi di Selandia Baru.

Selain karena keluarganya menjadi korban, ia menganggap Selandia Baru merupakan negara paling aman di dunia.

Lilik Abdul Hamid, WNI yang meninggal dunia dalam aksi penembakan di Christchurch Selandia Baru merupakan sosok alumnus penerbangan yang berprestasi.
Lilik Abdul Hamid, WNI yang meninggal dunia dalam aksi penembakan di Christchurch Selandia Baru merupakan sosok alumnus penerbangan yang berprestasi. (dok Facebook via Kompas.com)

Cerita WNI yang Lolos dari Serangan di Masjid Selandia Baru, 5 Jam Sembunyi hingga Saling Menguatkan

Lilik Abdul Hamid Jadi Korban Serangan Christchurch, Sang Istri Sempat Nangis Histeris

"Selandia baru tidak ada rasis. Paling aman lah. Makanya kejadian ini mengguncang dunia karena di sana negara paling aman di dunia," ujar dia.

Bahkan, menurutnya, menjalankan ibadah di tempat keramaian pun tidak ada yang mengganggu.

Namun, setelah serangan brutal tersebut, Denny mengaku takut untuk kembali berkunjung ke Selandia Baru.

"Biasanya kan di sana aman, nanti main ke sana tiba-tiba ditembak dari belakang," tutur Denny.

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved