Penembakan di Selandia Baru

Lilik Abdul Hamid Jadi Korban Serangan Christchurch, Sang Istri Sempat Nangis Histeris

Satu WNI tewas Lilik Abdul Hamid (57), teknisi pesawat di Air New Zealand dan sudah tinggal di Selandia Baru sejak 2002.

Lilik Abdul Hamid Jadi Korban Serangan Christchurch, Sang Istri Sempat Nangis Histeris
dok Facebook via Kompas.com
Lilik Abdul Hamid, WNI yang meninggal dunia dalam aksi penembakan di Christchurch Selandia Baru merupakan sosok alumnus penerbangan yang berprestasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) telah dipastikan menjadi korban dalam serangan di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019) lalu.

Ia adalah Lilik Abdul Hamid (57), teknisi pesawat di Air New Zealand dan sudah tinggal di Selandia Baru sejak 2002.

Ketika pertama kali mendengar kabar terjadi serangan di Masjid Al Noor, sang istri Nina diketahui sangat terkejut.

Hal itu diungkapkan adik Nina yang juga adik ipar Lilik, Denny (53), saat ditemui TribunJakarta.com di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (17/3/2019).

"Istrinya shock, sampai nangis histeris. Waktu tahu suaminya tidak ada di rumah sakit pun sudah mulai jerit-jerit. Yang di rumah sakit kan korban luka semua. Berarti kan suaminya ada di dalam masjid, tewas maksudnya," kata Denny.

Sejumlah Penggiat Komunitas Menggelar Aksi Nebar Ikan Bareng di Kalimalang Bekasi

UPDATE Banjir Bandang di Sentani Jayapura: 63 Orang Tewas, 43 Luka-luka

WNI Korban Serangan di Christchurch: 17 Tahun Menetap di Selandia Baru dan Dikenal Dermawan

Meski begitu, Denny mengatakan jika kondisi Nina berangsur stabil dan sudah mengikhlaskan kepergian suaminya.

Bahkan menurutnya, Nina meminta agar jenazah sang suami dimakamkan secepatnya.

"Sudah ridho, bahkan dia minta dimakamkan secepatnya. Jangan dilama-lamain lagi supaya sesuai syariat Islam," tuturnya.

"Tapi dari Polisi kan di otopsi dulu, diidentifikasi dulu, urusan verbal lah. Jadi dimakamkannya besok," imbuhnya.

Lilik merupakan lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Banten.

Setelah lulus, ia bekerja untuk Mandala Airlines, kemudian Airfast Indonesia, sebelum bergabung dengan Air New Zealand.

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved