Warga Kelurahan Pekayon Minta Pemerintah Renovasi Jembatan Penghubung

Pondasi bangunan yang dibangun sekira tahun 1997 itu kian rapuh dihantam arus Kali Baru dan berbagai sampah sehingga dikhawatirkan ambruk.

Warga Kelurahan Pekayon Minta Pemerintah Renovasi Jembatan Penghubung
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Kondisi jembatan penghubung di Kali Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (17/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Warga RW 08 Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur mengeluhkan kondisi jembatan penghubung antara permukiman mereka dengan Jalan Raya Bogor.

Pasalnya, pondasi bangunan yang dibangun sekira tahun 1997 itu kian rapuh dihantam arus Kali Baru dan berbagai sampah sehingga dikhawatirkan ambruk bila tak ditangani.

Siregar (68), warga Kelurahan RW 08 mengatakan jembatan itu sudah bergetar ketika dilintasi pengendara sepeda motor, pun jika ada yang warga yang membawa banyak barang.

"Jangankan sepeda motor, lalu orang jalan kaki tapi banyak bawa belanjaan pasti getar. Pondasinya sudah enggak kuat karena enggak kena arus," kata Siregar di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (17/3/2019).

Selain arus, batang kayu dan berbagai sampah lain yang terbawa kala hujan deras turun kerap menghantam pondasi jembatan sehingga memicu kekhawatiran warga.

Siregar menuturkan jembatan yang terletak dekat Pos Gerojokan itu dibangun menggunakan dana swadaya warga, bukan pemerintah.

Memotret Stasiun MRT Jakarta, Warga: Cara Nikmati Hari Minggu yang Asyik

Mahfud MD Yakin Rommy Ditangkap KPK Bukan atas Perintah Kubu 01 atau Permainan 02, Ini Penjelasannya

"Ini dibangun dari swadaya warga, dulunya jembatan ini jembatan bambu, terus ambruk. Pas pembangunan sudah mengajukan proposal ke pemerintah, tapi enggak dibangun-bangun. Makannya dulu warga patungan," ujarnya.

Menurutnya, kala itu setiap warga minimal harus merogoh uang minimal Rp 25 ribu untuk membiayai pembangunan jembatan yang jadi akses penghubung.

Beruntung banyak warga yang rela membayar lebih dari jumlah tersebut sehingga pembangunan jembatan terealisasi.

"Dulu setiap warga patungan, minimal Rp 25 ribu. Habis bagaimana, kalau menunggu pemerintah enggak dibangun-dibangun. Makannya waktu itu warga sepakat untuk patungan," tuturnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Erlina Fury Santika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved