Pengakuan Muncikari Penjaja WTS di Situs Online yang Diringkus Polres Kepulauan Seribu

TAA mengaku WTS yang ia jajakan lewat situs online Semprot.org adalah wanita-wanita yang dikenalnya dari teman ke teman

Pengakuan Muncikari Penjaja WTS di Situs Online yang Diringkus Polres Kepulauan Seribu
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Muncikari penjaja WTS secara online, TAA, saat diekspos di Kantor Polres Kepulauan Seribu, Pademangan, Jakarta Utara, Senin (25/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PADEMANGAN - TAA, muncikari yang menjajakan wanita tuna susila (WTS) secara online dan ditangkap aparat Polres Kepulauan Seribu, mengaku sudah menjalankan aksinya selama setahun belakangan.

Hal itu diungkapkan TAA kepada awak media saat Polres Kepulauan Seribu menggelar ungkap kasus prostitusi online yang dilakukannya.

"Udah setahun (melakukan bisnis prostitusi online)," aku TAA, Senin (25/3/2019).

TAA mengaku WTS yang ia jajakan lewat situs online Semprot.org adalah wanita-wanita yang dikenalnya dari teman ke teman.

Meski demikian, TAA memastikan bahwa WTS yang ia jajakan tak ada yang di bawah umur.

"Nggak ada yang di bawah umur, itu dapat dari teman ke teman," ungkap TAA.

Pria berkacamata itu juga mengatakan, seluruh pelanggan WTS yang ia jajakan berasal dari wilayah DKI Jakarta.

Hanya saja, TAA tak pernah mengetahui latar belakang pelanggannya.

"Dari wilayah Jakarta semua. Nggak tahu (dari kalangan mana), karena dari website aja, nggak kenal," katanya.

Joko Driyono Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara

Alasan Kemenhub Berlakukan Tarif Ojek Online Per 1 Mei 2019

Timnas Indonesia Bungkam Myanmar dengan Dua Gol Tanpa Balas

Kapolres Kepulauan Seribu, AKBP Muhammad Sandy Hermawan mengatakan bahwa WTS yang dijajakan pelaku memang ia dapatkan dari teman-temannya.

Selain TAA, diduga kuat masih ada muncikari lain yang menjajakan WTS lewat situs tersebut.

"Vianya lewat teman-teman ada yang dia punya kenalan digaet sama dia. Nggak harus kenal sama dia lah. Jadi dari satu wanita ke wanita lain saling berhubungan ini kan semacam agency gitu ya," ucap Kapolres.

Pelaku dijerat Pasal 45 Ayat (1) juncto Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

TAA terancam hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda sebanyak Rp 1 miliar.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved