Tembakau Alternatif Dapat Kurangi Tingkat Toksisitas 90 persen Dari Rokok Konvensional

Dari berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak bahaya merokok bagi kesehatan dan bagi orang disekitar perokok.

Tembakau Alternatif Dapat Kurangi Tingkat Toksisitas 90 persen Dari Rokok Konvensional
KOMPAS.com/ Ahmad Winarno
Petani tembakau di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Bondowoso, Jawa Timur 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Lita Febriani

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Merokok sudah dikenal masyarakat sebagai satu diantara penyebab kematian yang cukup besar di dunia.

Dari berbagai penelitian telah membuktikan ada banyak bahaya merokok bagi kesehatan dan bagi orang disekitar perokok.

Penyakit-penyakit seperti asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, demensia, disfungsi ereksi (impoten) dan sebagainya merupakan beberapa penyakit yang disebabkan melalui merokok.

Melalui Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok atau Gebrak, beberapa asosiasi mengajak masyarakat untuk mengampanyekan Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok.

Kajian yang dilakukan di beberapa negara, diantaranya Institut Federal Jerman (German Federal Institute for Risk Assessment) pada tahun 2018 menyatakan produk tembakau alternatif menghasilkan uap bukan asap karena tidak melalui proses pembakaran.

Tiga Pemuda di Ringkus Polsek Pondok Gede Karena Kedapatan Mengedarkan Tembakau Gorila

Penelitian ini menyatakan, produk tembakau alternatif memiliki tingkat toksisitas (tingkat merusak suatu sel) yang lebih rendah hingga 80-99 % dibandingkan rokok konvensional.

Gebrak ingin masyarakat dalam hal ini perokok mengetahui alternatif yang dapat diadopsi untuk mengurangi risiko kesehatannya, melalui penggunaan produk tembakau alternatif.

“Kami yakin gerakan ini akan diikuti masyarakat secara luas. Sehingga semakin banyak yang memperoleh manfaat dari rujukan dan referensi yang kami paparkan terkait pengurangan risiko melalui produk tembakau alternatif,” tutur Peneliti YPKP, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), dan Anggota GEBRAK, Dr. drg. Amaliya, M.Sc, PhD, Selasa (9/4/2019).

Amaliya menambahkan, gerakan ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab akademisi dan komunitas dalam memenuhi hak masyarakat sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Pada Pasal 4C dari undang-undang tersebut menyatakan konsumen berhak memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

Gebrak merupakan suatu gerakan yang diluncurkan oleh Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Asosiasi Vaper Indonesia (AVI), Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) dan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP).

Penulis: Lita Febriani
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved