Cerita Naga saat Putuskan Menjadi Mualaf, Hingga Kini Sebagai Ustaz di Masjid Lautze

Ia bercerita, awal mula menjadi mualaf karena semua mimpi yang pernah ia alami semasa SMP.

Cerita Naga saat Putuskan Menjadi Mualaf, Hingga Kini Sebagai Ustaz di Masjid Lautze
TribunJakarta/Dionisius Arya Bima Suci
Masjid Lautze di kawasan Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, SAWAH BESAR - Hidayah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Itulah satu kalimat yang diucapkan oleh Ali Karim Oei, Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei.

"Itulah hidayah, kita enggak tahu nasib orang. Ada yang kepepet mau nikah atau ada yang karena ingin belajar dan mendalami Islam," ucapnya, Rabu (15/5/2019).

Hal ini ia ungkapkan saat TribunJakarta.com berkunjung ke kantornya yang terletak di Lantai 3 Masjid Lautze, Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Sejak dibangun tahun 1991, sudah ada ribuan masyarakat etnis tionghoa yang mengucap kalimat syahadat di masjid milik Yayasan Haji Karim Oei tersebut.

Bahkan, sudah ada 17 orang etnis tionghoa yang telah menjadi mualaf di Masjid Lautze sejak Januari sampai April 2019 ini.

Salah satu mualaf yang pernah mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Lautze ialah Naga Kunadi (42).

Pria yang memiliki nama kecil Qiu Xue Long ini mengaku telah menjadi mualaf sejak tahun 2002 silam.

"Saya menjadi mualaf tahun 2002, saya syahadat disini (Masjid Lautze) sekira umur 26 tahun," ujarnya.

Ia bercerita, awal mula menjadi mualaf karena semua mimpi yang pernah ia alami semasa SMP.

Halaman
12
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved