Cerita Perjuangan Rukman, Naik-Turun Gunung Demi Dapatkan Batu Cincin untuk Dijual

Rukman (62) tampak begitu lelah usai berjalan dari Stasiun Kebayoran Lama menuju Jalan Lamandau 3, Barito, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019).

Cerita Perjuangan Rukman, Naik-Turun Gunung Demi Dapatkan Batu Cincin untuk Dijual
TribunJakarta/Annas Furqon Hakim
Rukman (62), penjual batu cincin keliling, saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Rukman (62) tampak begitu lelah usai berjalan dari Stasiun Kebayoran Lama menuju Jalan Lamandau 3, Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019).

Selama perjalanannya itu, ia menenteng satu kotak berisikan belasan batu cincin.

Rukman kemudian menawarkan batu cincin tersebut kepada orang-orang yang dihampiri.

Namun, ia mengaku lebih banyak mendapat penolakan ketimbang barang dagangannya laku terjual.

"Susah jualan ginian (batu cincin), dari pagi sudah keliling belum ada yang laku," katanya kepada TribunJakarta.com.

Batu cincin yang dijual Rukman merupakan hasil jerih payahnya sendiri.

Mulai Bangun Drainase Vertikal di Kebayoran Baru, Begini Kata Pekerja Sudin Tata Air

Puluhan Personel Kepolisian Polsek Kebayoran Baru Kawal Penghitungan Rekapitulasi Suara

Ketua PPK Kebayoran Baru Gelar Rekapitulasi Empat Kelurahan Hari Ini

Untuk satu batu cincin, Rukman mengaku harus naik turun gunung.

"Carinya harus lewatin hutan dulu, terus naik gunung. Nggak asal cari, harus batu yang bagus. Bisa seminggu saya carinya," ujar Rukman.

"Habis itu baru dijadiin batu cincin, gosok sendiri juga. Biasanya butuh sebulan sampai dua bulan," tambahnya.

Rukman mengatakan, pendapatannya dalam sehari tidak menentu.

"Paling Rp 50-100 ribu. Habis buat makan sama ongkos saja dari Rangkasbitung," ucapnya.

Namun, bukan pendapatan yang ia permasalahkan, melainkan hilangnya waktu bersama keluarga.

Sebab, Rukman hanya pulang ke rumahnya setiap tiga atau empat hari sekali.

"Kalau nggak pulang saya tidurnya di masjid. Masjid mana saja yang penting bisa tidur," ungkapnya.

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved