Pelaku Nang dan Hendri Cegat Melinda di Jalan untuk Bersenang-senang di Kebun Sawit

Editor: Y Gustaman
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Nang (kaus singlet) dan Hendri (telanjang dada) menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara pada Kamis (28/3/2019) malam setelah kakinya ditembak polisi karena mencoba kabur. Keduanya pembunuh calon pendeta Melinda Zidemi (foto kanan).

TRIBUNJAKARTA.COM, PALEMBANG - Niat jahat Nang terhadap Melinda Zidemi sudah muncul sejak korban keluar dari mes menuju Pasar Jeti.

Benih rasa suka Nang sudah muncul sejak Melinda Zidemi datang sebagai vikaris atau calon pendeta di Dusun Sungai Baung pada Oktober 2018.

Selama masa pengabdiannya di Dusun Baung sejak lulus Sekolah Tinggi Teologi Injil Palembang, Melinda tinggal di mes semipermanen di Divisi IV, PT PSM.

Nang begitu saja memendam rasa sukanya tak berani mengungkapkannya langsung kepada Melinda.

"Aku suka sama dia tapi enggak berani bilang. Waktu aku lihat dia keluar, aku ikuti sama Hendri," ungkap Nang seperti dilansir Sripoku.com, Jumat (29/3/2019).

Mess tempat tinggal Melinda Zidemi di Sungai Baung Air Sugihan OKI, Rabu (27/3) (AGUNGDWIPAYANA/TRIBUNSUMSEL.COM)

"Jadi yang mengajak Hendri dari mes ya aku," sambung Nang yang tercatat sebagai buruh permanen di area perkebunan sawit milik PT PSM itu.

Di hari Melinda mengajak anak didiknya, NP (9), mengendarai motor Revo untuk ke Pasar Jeti, Nang dan Hendri sudah memperhatikannya.

Warga Sungai Baung yang tinggal di Divisi I, Diana (30), sempat mengajak Melinda sepulang belanja dari Pasar Jeti untuk menginap di rumahnya.

Cuaca di luar semakin gelap dan mau turun hujan, tapi Melinda memutuskan memilih pulang ke mesnya di Divisi IV.

"Dia memilih buat pulang. Saya tinggal di Divisi I sedangkan korban tinggal di Divisi IV dan ditemukan tidak bernyawa di Divisi III," jelas Diana.

Diana sudah menganggap Melinda seperti keluarga sendiri meski baru sekitar lima bulan menjadi vikaris di daerahnya.

Selama ini anak-anak Diana dekat dengan Melinda, bahkan petang itu mereka menangis tahu Melinda memilih pulang ke mesnya.

"Anak saya nangis waktu korban mau pulang. Dia bilang jangan pulang ke korban. Tapi karena hari sudah mau sore, korban memilih pulang," jelasnya.

Diana langsung mencari tahu Melinda ketika dikabarkan hilang dan mengetahui korban bersama NP yang untungnya dapat selamat setelah kabur.

"Dari dia kami tahu jika Melinda diculik orang. Dia bilang sama kami, 'tante diculik.' Dia berlari dari Divisi III sampai Divisi IV, malam-malam, kakinya ketusuk duri-duri, sampai pulang. Anaknya trauma sekarang di rumahnya," jelas dia.

Mes semipermanen tempat vikaris Melinda Zidemi tinggal selama pengabdian berada di Divisi IV, Dusun Sungai Baung, Desa Bukti Batu, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Rabu (27/3/2019). (Tribun Sumsel/Agung Dwipayana)

Di mes Divisi IV, Nang dan Hendri semakin penasaran karena Melinda tak kunjung datang dari Pasar Jeti.

Niat jahat untuk memperkosa Melinda muncul di pikiran Nang dan mengajak Hendri untuk mencegat korban di area perkebunan sawit di Divisi III.

Warga sekitar tak ada yang berani masuk ke dalam perkebunan karena alasan keamanan. Apalagi jauh lokasinya sepi, di kiri dan kanan terbentang perkebunan sawit yang penuh semak.

Lokasi mayat Melinda ditemukan setelah diculik dua pelaku pada Senin (25/3/2019) malam, jalannya berbatu dan berubah menjadi kubangan lumpur di musim hujan.

Pijaro, warga yang bermukim di Divisi IV belum pernah menjamah area Divisi III tempat mayat korban ditemukan.

"Ngeri sekali kalau masuk ke perkebunan karena pasti tidak aman," cerita Pijaro tempo hari saat memandu Tribun Sumsel menelusuri lokasi terbunuhnya Melinda dan mesnya di Divisi IV.

Simak video lengkapnya soal lokasi korban ditemukan dan suasana mesnya di Divisi IV:

Nang mengaku awalnya mengajak Hendri untuk bersenang-senang dan melampiaskan nafsu kepada Melinda.

"Tujuan awalnya itu mau bersenang-senang, memperkosa," jelasnya nang sambil meringis menahan sakit, kata Nang yang setelah dilumpuhkan polisi.

Agar tak ketahuan, Nang dan Hendri memakai penutup wajah dan memalangkan dua balok kayu di jalan yang akan dilalui Melinda untuk ke mesnya di Divisi IV.

Korban hendak memutarbalikkan motornya namun Nang dan Hendri menyergapnya cepat. Tangan kuat keduanya tak bisa dilawan Melinda dan NP.

NP lebih dulu dicekik sampai pingsan lalu diikat tangannya menggunakan tali karet bekas ban dalam. Tubunya dibawa ke semak-semak.

Berikutnya giliran Melinda, tapi berontak dan melawan ketika Hendri hendak membuka pakaiannya.

Penutup wajahnya tersingkap sehingga Hendri kalap dan mencekik korban hingga tewas. Tubuh korban diseret dan dibuang pelaku 100 meter dari lokasi pertama.

Hendri awalnya hanya ikut-ikutan saja karena diajak Nang yang punya ide untuk memperkosa Melinda, warga Nias yang menurut rencana akan menikah Juli dengan guru agama sekampungnya.

Pijaro, saksi mata sedang menunjukkan lokasi mayat Melinda ditemukan di area kebun sawit PT PSM Divisi III Blok F19 Dusun Sungai Baung, Desa Bukti Batu, Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (26/3/2019). (Tribun Sumsel/Agung Dwipayana)

Nang membatalkan niatnya memperkosa lantaran korban sedang haid.

Kapolda Sumsel, Irjen Zulkarnaen Adhinegara, memimpin rilis kasus pembunuhan calon pendeta Melinda Zidemi pada Jumat (29/3/2019) pukul 15.00 WIB.

Nang dan Hendri dihadapkan kepada wartawan dan mereka mengaku tidak memperkosa korban karena sedang haid.

Keduanya duduk di kursi roda dengan kaki tertembak.

"Melalui pemeriksaan autopsi ditemukan tidak ada persetubuhan. Tersangka memang mencabuli dengan memasukkan tangannya ke alat vital korban," ungkap Kapolda.

Nang dan Hendra sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang karena polisi terpaksa menembak kedua kaki mereka saat mencoba kabur. (Sripoku.com/Tribun Sumsel)

Berita Terkini