Gerhana Bulan
Gerhana Bulan, Nelayan Ini Memilih Uji Nyali Mencari Udang Baratan
"Butuh nyali besar. Kalau bukan urusan perut, kami tak akan melaut," Aan Gufron (34) membuka pembicaraan.
TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - "Butuh nyali besar. Kalau bukan urusan perut, kami tak akan melaut," Aan Gufron (34) membuka pembicaraan.
Nelayan Kampung Bahari Tambaklorok, Rabu (24/1/2018) siang, itu menceritakan fenomena gerhana bulan total ibarat madu yang mengandung racun.
Sambil mengganjal kepala dengan bantal dan merebahkan badan di pos penjagaan dermaga Tambaklorok, ia bercerita gerhana bulan bisa untung sekaligus butung bagi nelayan.
Berdasarkan pengalaman para nelayan, gerhana bulan memicu pasang laut. Tapi di sisi lain pada Januari hingga Februari, musimnya panen udang.
Udang yang nelayan bakal panen mirip udang bago tapi berwarna putih, biasa juga disebut udang baratan karena muncul bersamaan dengan datangnya angin barat atau musim penghujan.
Jika untung, nelayan bisa menjual udang Rp 45 ribu per kilogram di Pangkalan Pendaratan Ikan Tambaklorok.
Asal tahu saja, kala gerhana bulan tinggi gelombang di perairan Laut Jawa bisa mencapai hingga empat meter, sementara kecepatan angin rata-rata mencapai 30 knot.
Warga Tambaklorok RT 10 RW 14, Semarang Utara, ini menyebut semakin tinggi gelombang, hasil laut yang siap dipanen dipastikan banyak.
"Kalau disuruh pilih, uji nyali atau tak melaut saat gerhana, saya pilih uji nyali," kelakar Gufron sambil mengubah posisinya.
Satu kali Gufron dan seorang temannya sesama nelayan, nekat melaut saat gerhana bulan, saat itu masing-masing membawa sampan.
Gelombang laut sudah tinggi saat mereka meninggalkan dermaga. Tiba di tengah laut, dua sampan nelayan itu terombang-ambing gelombang.
"Sampan kami posisinya berjejer (bersebelahan), jarak sekitar tiga meter. Saya tengok sampan teman, kadang hanya kelihatan bendera, kadang keliatan air saja karena gelombang tinggi. Ning ati mak sir (di hati waswas)," ungkap pria yang melaut sejak umur 15 tahun itu.
Apa yang Gufron lakukan dan nelayan lain benar-benar uji nyali sesungguhnya: tanpa jaket pelampung.
Mereka hanya mengandalkan sebilah bambu panjang yang dipasang membujur di atas sampan. "Kalau tenggelam, bambu itu satu-satunya pegangan saya. Dan Allah, tentunya," ucap Gufron.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-nelayan-sampan-kapal-nelayan_20180131_142725.jpg)