Viral Porter Perkasa di Pantai Sanur: Sehari Mampu Angkat 4 Motor

Ketika kapal cepat merapat di tepi Pantai Sanur, I Nyoman Kalor bergegas menyambanginya lalu mengangkat barang-barang bawaan penumpang.

Tayang:
Editor: Y Gustaman
Tribun Bali/I Putu Supartika
I Nyoman Kalor saat mengangkut barang milik penumpang kapal cepat di Pantai Sanur, Bali, Minggu (18/2/2018) siang. TRIBUN BALI/I PUTU SUPARTIKA 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUNJAKARTA.COM, DENPASAR - Ketika kapal cepat merapat di tepi Pantai Sanur, I Nyoman Kalor bergegas menyambanginya lalu mengangkat barang-barang bawaan penumpang.

Nyoman Kalor melindungi kepalanya dengan topi dari matahari begitu setiap harinya.

Langkah kakinya mantap meski tanpa alas kaki dan tak tanggung-tanggung ia mampu sekali angkat tiga koper di pundaknya lalu bergegas melewati air dan naik melewati tumpukan bebatuan dengan cepat.

Setelah meletakkan barang tersebut, ia kembali mengambil beberapa barang-barang penumpang lainnya.

Tak ada raut lelah di mukanya, bahkan dalam sehari ia mampu mengangkut empat sepeda motor dengan pundaknya.

Baca: Korban First Travel Turut Hadiri Sidang Perdana di PN Depok

Usai mengangkut barang bawaan penumpang, Tribun Bali mendekatinya.

Ia membalas jabat tangan lalu tersenyum ramah sembari bertanya, "Wenten napi niki? (Ada apa ini?)."

Nyoman Kalor mengakui tak pernah latihan khusus untuk mengangkat sepeda motor dari darat ke dalam kapal cepat atau sebaliknya.

Porter yang berkulit legam karena terik matahari ini viral di media sosial karena mengangkut sepeda motor dengan pundaknya.

"Karena biasa mungkin ya jadi biasa. Dan juga faktor keadaan yang mendorong saya untuk melakukannya," kata Nyomam Kalor tertawa, Minggu (18/2/2018) siang.

Ia merasa kasihan kepada penumpang kapal cepat yang memiliki sepeda motor ketika teman-teman kerjanya tidak ada.

Sehingga ia berinisiatif mengangkut motor tersebut sendiri.

Baca: Soal Jakarta Bakal Punya Stadion, Anies: Kami Tak Ingin Kirim Angin Surga

"Kasihan kan yang punya motor harus segera pulang, sehingga mau tak mau harus dicoba. Saya juga berpikir, mengangkut beras 100 kilogram saja bisa, kenapa mengangkat motor yang beratnya kurang dari itu tidak bisa," ujar pria yang berusia 45 tahun.

Sejak 10 tahun yang lalu ia mengangkut sepeda motor dengan pundaknya. Awalnya ia belajar menjaga keseimbangan tubuh terlebih dahulu apalagi saat di air.

Kondisi ombak juga sangat mempengaruhi langkahnya.

Jika ombak besar, maka ia akan menunggu celah melewati ombak tersebut menuju ke kapal cepat begitu juga sebaliknya.

"Lihat juga kondisi ombak. Kalau besar tidak berani, kasian motor orang. Kalau jatuh sih nggak dimarahi tapi perasaan juga, tidak enak" kata lelaki asal Banjar Pengalusan, Desa Klumpu, Nusa Penida yang kini tinggal di Batubulan ini.

Kalor yang sudah bekerja mengangkut barang penumpang boat selama 31 tahun ini, mengaku dalam sehari ia bisa mengangkut sampai empat sepeda motor.

Namun, kadang-kadang sampai dua hari tak mengangkut sepeda motor dan hanya mengangkut bawaan penumpang berupa koper, maupun barang lainnya.

Biasanya Kalor akan mendapat banyak job mengangkut sepeda motor saat liburan sekolah dan awal sekolah.

"Biasanya saat anak-anak libur sekolah baru banyak. Ada yang libur dua minggu sampai satu bulan kan harus membawa motor pulang. Begitu juga pas awal-awal sekolah. Hari biasa tidak tentu, kalau ada paling hanya satu motor," ungkapnya.

Ia tidak pernah mematok bayaran kepada orang yang menggunakan jasanya. Biasanya ia mendapat Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu untuk mengangkut satu motor.

"Saya tidak mematok harga, kasian orangnya. Paling saya dapat lima puluh ribu. Kalau ombak besar, saya kan lama nunggu ombak, mungkin karena kasihan dikasi seratus ribu," imbuh Kalor.

Dengan menjadi tukang angkut barang, dalam sehari ia mendapat penghasilan rata-rata Rp 500 ribu.

Mengandalkan pekerjaannya itu, ia kini bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan empat orang anaknya.

Tiga anaknya sedang menempuh studi di kampus swasta di Denpasar dan yang satunya lagi masih duduk di bangku SMA.

"Biar bisa makan saja. Lumayan bisa menghidupi istri, empat anak dan satu keponakan," kata Kalor.

Ia bekerja mulai pukul 06.00 Wita dengan terlebih dahulu menyapu di sekitar kantornya karena dirinya bekerja di bawah Desa Sanur.

Setelah itu, saat ada boat akan berangkat ataupun menepi, ia mulai bekerja. Pulang pukul 15.00 Wita dan kadang pukul 16.00 Wita tergantung banyaknya boat yang bertolak maupun berlabuh.

Tatapan mata dan otot di lengannya menyiratkan tak ada rasa mengeluh dalam dirinya. Dengan gagah ia hadapi hari demi hari untuk menyambung hidup. 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved