Superhero Asal Purbalingga, Sukimin Selamatkan 3 Orang Korban Longsor Meski Putranya Sendiri Tewas

"Saya lihat kamar anak saya sudah terkubur tinggi. Saya kemudian selamatkan 3 orang yang jelas masih hidup," ujar Sukimin.

Superhero Asal Purbalingga, Sukimin Selamatkan 3 Orang Korban Longsor Meski Putranya Sendiri Tewas
Kompas.com/ M Iqbal Fahmi
Salah satu ibu korban, Ibu Sukimin menangis histeris dipelukan Bupati Purbalingga, Tasdi, saat jenazah buah hatinya, Abdul Roup dibawa ke pemakaman, Jumat (23/2/2018).(KOMPAS.com/Iqbal Fahmi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Rr Dewi Kartika H

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Bencana longsor yang terjadi di Desa Jingkang, Kamis (22/2/2018), menewaskan empat orang warga.

Ke empatnya masih berusia sangat belia, yakni  Al Karomi (7), Safangatul Isman (3), Sifaul Umam (9), dan  Abdul Roup (11).

Adbdul Roup salah satu korban tewas adalah putra dari Sukimin (28).

Sebelum peristiwa nahas itu terjad Kamis malam (22/2/2018), dikutip dari TribunJateng.com , Sukimin mengajak putranya ke tempat hajatan di rumah Solikhin, saudaranya.

Saat itu Solikhin tengah menggelar acara selamatan dengan bacaan tahlil untuk anaknya, Sifaul Umam (9) yang akan segera disunat.

Sekitar 30 warga yang datang untuk mendoakan anak itu serta mendoakan Kakak Sifaul yang juga akan segera menikah.

Beberapa bocah seusianya, termasuk Abdul Rouf ikut orang tuanya di acara itu.

Baca: Besok, Sejumlah Ruas Jalan di Sunter akan Ditutup saat Menteri Susi dan Sandiaga Lomba Renang

Saat pengajian dimulai, bocah itu memilih masuk ke kamar untuk tidur bersama Alkaromi (7).

Dua bocah lain, Safangatun (4), dan Sifaul Umam (9), berada di kamar sebelah.

Pukul 20.30 WIB, hujan yang sejak sore turun  belum juga mereda.

Listrik tiba-tiba padam. Tanpa diduga tebing belakang rumah runtuh disertai suara gemuruh yang menggelegar.

Luncuran tanah dan bebatuan yang begitu cepat tak memberi kesempatan mereka lari.

Baca: Wajahnya Jadi Sorotan, Ternyata Roro Pernah Tegur Dokter Kecantikan Karena Diduga Oprasi Plastik

Material longsor menimpa rumah, menjebol atap dan dinding belakang rumah hingga masuk ke tengah. 

Sejumlah warga yang duduk di ruang paling depan berhasil lolos.

Namun nahas, mereka yang berkumpul di ruang tengah tak mampu menghindar, mereka terkubur material longsor.

Terlebih empat bocah yang terkurung di kamar paling  belakang.

Suara Ke empat bocah itu tidak terdengar. Dua kamar yang dihuni empat bocah itu tertimbun gundukan tanah setinggi sekitar 3 meter.

Baca: Setelah Danau Sunter, Menteri Susi Pudjiastuti Tantang Warga untuk Bersihkan Pantai

"Saya kena puing tembok, tidak bisa menyelamatkan anak saya. Saya lihat kamar sudah tertimbun," katanya lirih dikutip dari TribunJateng.

Meski harus menahan perih, Sukimin enggan beranjak dari area bencana.

Saat teman-temannya berlarian mencari keselamatan, Sukimin memilih bertahan.

"Saya lihat tanah sudah tinggi menimbun kamar yang dihuni anak saya. Jadi saya pasrah,"katanya, Jumat (23/2/2018).

Saat dirinya dirundung kesedihan memikirkan keselamatan putranya, Sukimin melihat ayah dan kerabatnya meminta tolong.

Baca: Sopir Bus: Banjir di Tol Pejagan-Kanci Tidak Memutus Akses Jalan

Tubuh mereka terjepit material longsor sehingga tidak bisa menyelamatkan diri.

Kondisi ayah Sukimin, Syahrudin paling parah. Sebagian tubuhnya tertimbun tanah serta tertimpa puing bangunan.

Sedangkan kerabatnya, Syafik dan Ruslan hanya pasrah karena tak bisa bergerak terhimpit material longsor.

Jiwa-jiwa itu harus segera diselamatkan sebelum pergerakan tanah tambah parah.

Sukimin akhirnya mengangkat tubuh mereka dengan sekuat tenaga.

Baca: Banjir di Cirebon dan Brebes Tak Pengaruhi Jadwal Bus di Terminal Kalideres

Ia mengangkati satu persatu puing dan material longsor yang menjepit tubuh mereka menggunakan tangan.

Hingga mereka bisa keluar dari timbunan longsor meski harus kesakitan.

Dikutip kembali dari TribunJateng, Syahrudin yang mengalami luka serius atau patah tulang lalu dilarikan ke RSUD Purbalingga.

Bibir Syafik yang sobek dan berdarah karena tertimpa puing tembok haris diperiksakan ke Puskesmas terdekat.

"Saya lihat kamar anak saya sudah terkubur tinggi. Saya kemudian selamatkan 3 orang yang jelas masih hidup. Ada yang sudah tertimbun setinggi dada saya selamatkan,"katanya

Meski berhasil menyelamatkan ayah dan kerabatnya, malang bagi Sukimin tidak bisa meraih putranya. (*)

Penulis: Rr Dewi Kartika H
Editor: Rr Dewi Kartika H
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved