Cap Go Meh 2018
Perayaan Cap Go Meh, Wihara Amurva Bhumi Gelar Kirab Budaya Dari Berbagai Kebudayaan
"Tahun ini ada yang spesial dibanding tahun sebelumnya. Kita datangkan barongsai ritual dari Sukabumi," kata Mulyadi Saputra.
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Dalam rangka memeriahkan perayaan Cap Go Meh 2018, Wihara Amurva Bhumi akan mengadakan kirab budaya pada Minggu (4/3/2018).
Tidak hanya budaya Tiongkok yang ditampilkan pada perayaan budaya esok, kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia pun turut hadir.
Baca: Sandiaga Uno Menjerit Digigit Barongsai, Begini Reaksinya
"Bukan hanya barongsai, tetapi dalam pawai budaya besok kebudayaan asli Indonesia seperti Ondel-ondel dan Reog juga ada," ujar Mulyadi Saputra selaku ketua pelaksana Cap Go Meh Wihara Amurva Bhumi, Bali Mester, Jatinegera, Jakarta Timur, Sabtu (3/3/2018).
Pawai budaya yang diadakan oleh Wihara Amurva Bhumi akan dimulai pada pukul 14.00 WIB dan menempuh jarak sekitar tiga hingga empat kilometer.
Kata Mulyadi, rutenya menuju Kebon Pala lalu memutar menuju RS Premier dan kembali lagi menuju lokasi awal.
Baca: Ditantang Izinkan PKL Berdagang di Trotoar Depan Istana Negara, Ini Jawaban Sandiaga
Dia memprediksi sekitar 400 orang akan ikut dalam pawai budaya tersebut.
"Tahun ini ada yang spesial dibanding tahun sebelumnya. Kita datangkan barongsai ritual dari Sukabumi," kata Mulyadi Saputra.
Barongsai ritual ini memiliki keunikan dan ciri khasnya sendiri dibanding jenis barongsai lainnya.
"Kalo ini barongsainya memiliki gerakan dan tabuhan gendang yang khas, gerakan dan tabuhannya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Yang memainkannya juga bukan orang sembarangan, harus puasa daging dulu selama lima belas hari," tambahnya.
Baca: Sebelum Meninggal, Seorang Korban Tanjakan Emen Sempat Ucapkan Takbir Sebanyak 3 Kali
Dalam kirab budaya tahun ini, Wihara Amurva Bhumi ingin menonjolkan keanekaragaman budaya di Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.
"Berbagai ritual budaya yang ada di Indonesia, kalau bukan kita yang jaga siapa lagi, nanti diurus negara lain baru kita marah," tutupnya.