Tergelincir Dari Motor, Lehmat dan Cimih Menjadi Pengemis

Istrinya yang tidak bisa berjalan duduk di gerobak yang memiliki panjang sekitar 1 meter yang dilengkapi dengan atap.

Tayang:
Penulis: Ikhsan abrianto | Editor: Adiatmaputra Fajar Pratama
TribunJakarta.com/Ikhsan Abrianto
Pengemis di Cibubur Selasa (20/3/2018) TRIBUBNJAKARTA.COM/IKHSAN ABRIANTO 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ikhsan Abrianto

TRIBUNJAKARTA.COM, CIBUBUR - Lehmat (65) asal Cikarang, Jawa Barat mengalami nasib kurang Beruntung saat mengadu nasib di Cibubur, Jakarta Timur.

Kini ia ditemani oleh istiranya yang bernama Cimih (70) menjadi pengemis di depan Pom Bensin Shell yang terletak di samping jalan Alternatif Cibubur.

Sebelum menjadi pengemis, ia bekerja sebagai penjual air minum di Jalan Alternatif Cibubur.

Baca: Bawang Putih Mengalami Kenaikan Harga di Pasar Ciputat

Namun, ia mengalami kecelakaan terpleset dari motor dan menimpa kakinya dan kaki istrinya.

Hal tersebut membuat Cimih tidak bisa berjalan dan Lehmat juga mengalami kesakitan saat berjalan.

"saya tahun 2013 kesini diajak temen dari Cikarang, Jualan air awalnya, kena kecelakaan motor kepleset tru nimpa kaki saya sama istri saya, istri saya gak bisa jalan saya juga udah gak bisa maksmal jalannya, jadi cuman bisa gini aja kerjanya," ujar Lehmat kepada TribunJakarta.com, Selasa (20/3/2018).

Istrinya yang tidak bisa berjalan duduk di gerobak yang memiliki panjang sekitar 1 meter yang dilengkapi dengan atap.

Baca: Gonta Ganti Pemain, Persib Bandung Mencari Sosok Kuat Menjadi Bek

Ia selalu menarik istrinya yang berada dalam gerobak tersebut ke tempat ia mengemis.

"Ini sejak kejadian itu, istri saya gak bisa jalan dan di gerobak terus, saya yang bikin sendiri ini gerobaknya, tarik gerobaknya dari kontrakan di Kali Cimanggis sampai sini," ujarnya.

Sudah berbagai usaha dilakukan untuk mengobati luka tersebut namun karena keterbatasan dana hal tersebut tidak dilanjutkan.

"Udah diurut, udah periksa ke puskesmas juga tapi gak ada dana jadi gak bisa dilanjutkan, ibu juga kuku kakinya mulai lepas satu-satu gak tau kenapa sebabnya," ujarnya.

Mereka berdua mengemis disana dari pagi setiap harinya dan pulang pada pukul 11.00 WIB.

"kita dari pagi, pulangnya jam 11.00 WIB, kalo hujan ya gak kesini, sehari gak nentu dapetnya yang penting bisa buat makan setiap harinya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved