Politikus PDI Perjuangan Ini Sebut Kesaksian Setnov Soal Puan Penuh Fiksi

Darmadi juga menduga nyanyian Setya Novanto tak lebih sebagai strategi yang bersangkutan agar tidak dihukum berat

Politikus PDI Perjuangan Ini Sebut Kesaksian Setnov Soal Puan Penuh Fiksi
Kompas.com/Garry Andrew Lotulung
Terdakwa kasus korupsi pengadaan KTP elektronik Setya Novanto menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (8/2/2018). Sidang lanjutan itu beragenda mendengarkan keterangan saksi dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum. KOMPAS.COM/GARRY ANDREW LOTULUNG 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Politikus PDI Perjuangan Darmadi Durianto menilai, nyanyian terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto yang menyebut adanya dugaan aliran dana proyek e-KTP ke Puan Maharani dan Pramono Anung tak lebih dari halusinasi atau cerita fiksi belaka.

Darmadi menilai pernyataan Setya Novanto tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

"Entah sedang bermain drama atau apa, kesaksian SN penuh fiksi dan tak lebih seperti seseorang yang penuh tekanan, publik juga sudah mengetahui jika SN kerap menunjukan perilaku aneh, mulai dari sikapnya yang membisu saat ditanya majelis hakim hingga jawaban yang dianggap bohong oleh jaksa," kata Darmadi dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Minggu (25/3/2018).

Mengapa nyayian Novanto layak disebut penuh fiksi? Menurut Darmadi, karena jika dicermati dari fakta-fakta persidangan yang ada sebelumnya sama sekali tak ada satupun yang menyebut adanya keterlibatan kedua kader PDIP yakni Puan Maharani maupun Pramono Anung.

"Jurus apalagi yang dipakai SN dalam menyikapi dirinya dari jeratan hukum kasus dugaan proyek e-KTP?. Secara psikologi, ini namanya mythomania, kebohongan yang seolah nyata yang hanya dia sendiri yang mempercayainya," kata pria yang juga merupakan Bendahara Megawati Institute itu.

"Semua bisa kita cermati dari seluruh pernyataan Made Oka Masagung, baik di BAP maupun di persidangan menegaskan bahwa Oka Masagung tidak pernah sekalipun menyebutkan nama sebagaimana disampaikan oleh SN," tuturnya.

Darmadi juga menduga nyanyian Setya Novanto tak lebih sebagai strategi yang bersangkutan agar tidak dihukum berat karena perbuatannya.

Baca: Jokowi-Airlangga Bahas Cawapres, Surya Paloh: Itu Komunikasi Baik

"SN dalam situasi tertekan dan berupaya menjadi justice collaborator. Tampilan psikologis orang seperti ini adalah mencoba menampilkan bahwa dirinya bukan desainer. Apa yang disampaikan SN menurut KUHAP, masuk kategori testimonium de auditu. Jadi sangat lemah dan tak lebih sebagai sensasi politik demi keringanan hukuman," ujarnya.

Jadi, kata dia, nyanyian Setya Novanto berbanding terbalik dengan Berita Acara Pemeriksaan dan keterangan para saksi di pengadilan yang tak sekalipun menyebut nama Puan Maharani maupun Pramono Anung.

Halaman
12
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved