Warga Aceh Tunjukkan 3 Surat Utang Negara Tahun 1950, Belum Dipastikan Terkait Pembelian Pesawat RI

Dalam surat yang sudah berwana kuning juga tertulis obligasi pada matjam hutang (macam utang).

SERAMBINEWS.COM/JAFARUDDIN
Muhammad Samin (70) warga Desa Paloh Batee Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe menunjukkan tiga surat utang negara tahun 1950, pada Selasa (27/3/2018) 

TRIBUNJAKARTA.COM, LHOKSEUMAWE – Muhammad Samin (70) warga Desa Paloh Batee Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe, Aceh menunjukkan tiga surat Utang Negara Tahun 1950.

Namun, ia tidak mengetahui apakah surat tersebut obligasi pengumpulan dana untuk pembelian pesawat terbang pertama Indonesia setelah kemerdekaan RI atau bentuk sumbangan lainnya kepada RI pada tahun 1950.

Ketiga surat tersebut pertama milik Ayahnya (almarhum), Abdullah Risjat dan dua abangnya yang juga sudah almarhum yaitu, M Rusli Abdullah dan M Yosoef Abdullah.

Baca: Siswi SMP Tertawa Riang Diajak David Beckham Selfie dan Bikin Instastory, Ini Potret Keceriaannya

Masing-masing pada surat tertera lima ratus rupiah.

Dalam surat yang sudah berwana kuning juga tertulis obligasi pada matjam hutang (macam utang).

“Surat yang kami miliki tersebut itu persis sama dengan yang dimiliki oleh orang lain yang ikut menyumbang dana ketika itu untuk membeli pesawat. Namun, saya tidak mengetahui persis apakah surat utang negara tersebut adalah sumbangan untuk pembelian pesawat,” ujar Muhammad Samin kepada Serambinews.com, Selasa (27/3/2018)

Dia menyebutkan, ketika masih kanak-kanak, orang tuanya sempat berpesan kepada dirinya untuk menjaga dengan baik surat tersebut.

Baca: Kisah Anto Cepi, Anggota TNI AU Asal Gunung Kidul yang Mirip AHY

“Surat tersebut kami simpan baik-baik, nanti suatu saat akan berharga, hanya itu yang disampaikan orang tua saya,” kata Muhammad Samin.

Surat tersebut disimpang orang tuanya dalam lipatan kain yang disimpan dalam lemari.

Lalu setelah terdengar informasi Nyak Sandang dipanggil Presiden Jokowi karena memiliki surat tersebut, kemudian mencari kembali surat tersebut yang sudah sangat lama disimpan.

“Orang tua saya dulu pedagang kain, dan termasuk orang kaya ketiga di Paloh Batee. Jadi surat ini akan terus saya simpan dan akan saya pres, sehingga tidak rusak dimakan waktu,” ujar ayah lima anak tersebut. (Serambinews.com/Jafaruddin)

Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved