Mark Zuckerberg: "Kami Tidak Mengizinkan Kelompok-kelompok Kebencian di Facebook"

Facebook telah menghapus dua halaman yang terkait dengan supremasi kulit putih Richard Spencer.

thehill.com
Facebook telah menghapus dua halaman yang terkait dengan supremasi kulit putih Richard Spencer. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Mark Zuckerberg selaku Facebook Founder berlaku lebih tegas dalam menyikapi konten didalam Facebook.

Facebook telah menghapus dua halaman yang terkait dengan supremasi kulit putih Richard Spencer.

Mengutip informasi dari thehill.com, kedua halaman itu milik Spencer’s National Policy Institute (Lembaga Kebijakan Nasional Spencer) dan situsnya altright.com.

Facebook mengkonfirmasi kepada BuzzFeed bahwa halaman-halaman itu ditutup dan mengatakan Facebook tidak mengizinkan kelompok-kelompok kebencian di situs mereka.

Tautan ke kedua laman, yang memiliki kurang dari 15.000 pengikut menampilkan errror messages.

Langkah ini dilakukan pada minggu yang sama saat CEO Facebook Mark Zuckerberg memberi kesaksian kepada Kongres tentang kebijakan privasi perusahaannya dan skandal Cambridge Analytica baru-baru ini.

Selama persidangan, Zuckerberg mencatat bahwa Facebook tidak mendukung kelompok-kelompok kebencian menggunakan platform mereka.

Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg ()

“Kami tidak mengizinkan kelompok-kelompok kebencian di Facebook, secara keseluruhan. Jadi jika ada grup yang tujuan utamanya, atau sebagian besar dari apa yang mereka lakukan, yaitu menyebarkan kebencian, kami akan mencekal mereka dari platform secara keseluruhan,” katanya.

Spencer adalah salah satu seorang nasionalis kulit putih yang paling menonjol di Amerika Serikat dan telah dikenal mengadvokasi pembentukan "ethnostate" putih.

Mengutip informasi dari wiktionary, Ethnostate adalah unit politik yang dihuni oleh dan dijalankan untuk kepentingan kelompok etnis.

Kehadiran media sosialnya telah menjadi target penindasan sebelumnya.

Pada tahun 2016, Twitter menurunkan halaman National Policy Institute serta Spencer.

Akun Spencer kemudian dipulihkan, meskipun ia kehilangan lencana verifikasinya pada tahun 2017.

(TribunJakarta.com/Ananda Bayu Sidarta)

Penulis: Ananda Bayu Sidarta
Editor: Ananda Bayu Sidarta
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved