Hari Buruh Internasional

Pengemudi Ojek Daring Doakan Tuntutan Para Buruh Dapat Terpenuhi

Mereka merasa apa yang dialami oleh para buruh, juga dirasakan oleh pengemudi ojek daring yang saat ini bahkan belum memiliki payung hukum

Penulis: Nawir Arsyad Akbar | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Elga Hikari Putra
Massa Buruh mengikuti aksi May Day. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Meski profesi mereka bukanlah disebut buruh, namun beberapa pengemudi ojek daring mendoakan agar aksi massa di depan Istana Merdeka membuahkan hasil.

Hal ini diutarakan beberapa pengendara ojek daring yang biasa mencari penumpang di kawasan Stasiun Cakung.

"Semoga tuntuntannya dipenuhi oleh pemerintah dari aksi ini. Kita juga tahu susahnya cari uang," ujar Husni, pengemudi ojek daring di sekitat Stasiun Cakung, Jakarta Timur, Selasa (1/5/2018).

Doa tersebut bukan tanpa alasan diutarakan para pengemudi ojek daring yang merasa sulit untuk mencari penghasilan saat ini.

Mereka merasa apa yang dialami oleh para buruh, juga dirasakan oleh pengemudi ojek daring yang saat ini bahkan belum memiliki payung hukum yang pasti.

"Kita tahu rasanya demo panas-panasan, kita tahu susahnya cari uang. Semoga pemerintah memperhatikan orang seperti kita, ya buruh, ya ojek daring," ujar Rifky, pengemudi ojek daring.

Baca: Sebelum Bubarkan Diri, Massa Buruh Nyalakan Flare dan Petasan

Ribuan buruh pada hari ini berkumpul di beberapa titik untuk menuntuk tiga hal dalam memperingati Hari Buruh Internasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (1/5/2018).

Ada tiga hal yang menjadi tuntutan para buruh dalam memperingati Hari Buruh Internasional tahun ini.

Pertama adalah menolak Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA).

Kedua, mempersoalkan PP (Peraturan Pemerintah) nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan dan tentang BPJS Kesehatan.

Terakhir, menolak revisi Undang-undang nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang mengatur penentuan upah minimun.

"Salah satu alasan mereka turun hari ini lebih banyak, karena mereka ingin menolak kebijakan pemerintah tentang TKA yang sedang viral dimana pemerintah mengelar karpet merah bagi pekerja asing yang tidak resmi atau unskill," ujar Arifin, satu diantara panitia aksi buruh FSP LEM SPSI.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved